• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Selasa, November 3, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home » Tamu Tak Diundang di Gerbang Pesantren

Tamu Tak Diundang di Gerbang Pesantren

angel angel by angel angel
3 November 2026
in Ragam
0
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

Oleh: M.R. Mualimin

YOGYAKARTA || Bedanews.com – Malam itu, gerimis tipis menyiram pelataran pesantren kami. Suasana khusyuk pembacaan wirid yang biasa mengalun mendadak terputus oleh suara deru motor bersahut-sahutan. Ketika pintu gerbang saya buka, puluhan pria berwajah garang dengan tatapan bengis telah mengepung halaman. Beberapa di antaranya berambut gondrong, berpakaian serba gelap, dan menampilkan deretan tato yang menyembul dari balik lengan baju. Tanpa basa-basi, jempol dan telunjuk mereka menunjuk-nunjuk ke arah wajah saya. Ada beberapa orang yang merekam video dengan ponsel. Ada pekikan suara takbir. Suara dengan nada volume tinggi melengking, menuntut apa yang mereka sebut sebagai “tabayyun” terkait heboh rumor penyelenggaraan konser maestro musik klasik Andrea Bocelli di Candi Borobudur.

Sebagai pengasuh pesantren yang mengalami langsung intimidasi tersebut, saya menyaksikan betapa kata tabayyun—sebuah prinsip luhur dalam tradisi Islam untuk menguji kebenaran informasi—telah digusur maknanya. Apa yang terjadi malam itu bukanlah dialog akademik atau klarifikasi yang sejuk, melainkan pertunjukan kekuatan fisik (demonstration of force) yang membajak istilah agama demi legitimasi tekanan massa.

BeritaTerkait

PRAHARA KETIGA: UJIAN KEDAULATAN BANGSA

3 November 2026

RSUD Kapuas Gelar Edukasi Diabetes Melitus pada Lansia, Ajak Masyarakat Cegah Komplikasi

3 November 2026

Fenomena ini sejatinya merupakan cerminan dari gejala sosio-keagamaan yang pernah diulas secara mendalam oleh sosiolog Perancis, Pierre Bourdieu. Dalam karyanya Language and Symbolic Power (Cambridge: Harvard University Press, 1991, hlm. 163), Bourdieu menjelaskan bagaimana simbol-simbol dan bahasa agama kerap kali dimanipulasi sebagai “kekerasan simbolik” (symbolic violence) untuk memaksakan kehendak dan mendominasi ruang publik tanpa melalui proses rasional yang adil. Istilah tabayyun yang seharusnya menjadi instrumen konfirmasi yang penuh kesantunan, bergeser menjadi kedok untuk melakukan persekusi visual dan verbal.

Secara epistemologis, tindakan mendatangi lembaga pendidikan dengan kepalan tangan dan gertakan melanggar asas dasar pencarian kebenaran dalam tradisi Islam itu sendiri. Pakar hadis dan metodologi sejarah Israr Ahmad Khan dalam Authentication of Hadith: Redefining the Criteria (London: International Institute of Islamic Thought, 2010, hlm. 75) menekankan pentingnya pengujian bukti (matn) secara kritis, objektif, dan bebas dari bias emosional atau tekanan pihak luar. Ketika sebuah klarifikasi dilakukan di bawah ancaman dan intimdasi fisik, maka asas obyektivitas itu gugur seketika; yang tersisa hanyalah penghakiman sepihak.

Pendekatan gerudukan ini juga menegaskan kerapuhan literasi masyarakat di era disrupsi informasi. Sebuah desas-desus atau berita mentah tentang acara seni-budaya di kawasan cagar budaya seperti Borobudur dengan cepat menyulut sentimen emosional, tanpa memberi ruang bagi verifikasi yang jernih. Ormas yang datang membawa wajah beringas sejatinya menjadi korban sekaligus pelaku dari hysteria massal yang digerakkan oleh prasangka.

Pesantren sejak dahulu berdiri sebagai benteng ilmu, tempat di mana perbedaan pemikiran diselesaikan melalui mujadalah (diskusi) yang santun dan hikmah. Jika tradisi klarifikasi justru disumbat oleh bentakan dan telunjuk yang mengancam di depan santri, kita sedang mempertontonkan kemunduran peradaban yang memprihatinkan. Tabayyun seharusnya menjernihkan yang keruh, bukan membawa kegelapan baru ke dalam bilik-bilik pencari ilmu.***

Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Previous Post

RSUD Kapuas Gelar Edukasi Diabetes Melitus pada Lansia, Ajak Masyarakat Cegah Komplikasi

Next Post

Dandim Ponorogo: Soliditas dan Kekompakan Adalah, Kunci Sukses Pelaksanaan Tugas

Related Posts

Ragam

PRAHARA KETIGA: UJIAN KEDAULATAN BANGSA

3 November 2026
Ragam

RSUD Kapuas Gelar Edukasi Diabetes Melitus pada Lansia, Ajak Masyarakat Cegah Komplikasi

3 November 2026
Ragam

Dedy Rangkuti Apresiasi AMPI Binjai, Sinergi Pemuda dan Pemerintah Diyakini Jadi Kunci Binjai Maju dan Kondusif

3 November 2026
Ragam

Pemda Ikuti Workshop Perhitungan Biaya untuk Tingkatkan Layanan Sampah

3 November 2026
Ragam

Beban Berat di Pundak Senayan: Saat Gelombang Pemakzulan Menagih Janji Wakil Rakyat

2 November 2026
Politik

Pengamat: Jika Gibran Tumbang, Prabowo Tetap Berdiri kokoh

2 November 2026
Next Post

Dandim Ponorogo: Soliditas dan Kekompakan Adalah, Kunci Sukses Pelaksanaan Tugas

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com © 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com © 2021