“Kami punya program kuliah gratis sampai sarjana untuk anak-anak yang tidak mampu. Minimal mereka bisa terus sekolah, bahkan jika harus melalui jalur paket A, B, atau C,” jelasnya.
Komitmen ini juga mencakup pendekatan kolaboratif dengan berbagai elemen masyarakat.
Erwin menyebut, tantangan pendidikan saat ini tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja, tapi harus dilakukan bersama melalui gotong royong.
Khusus di SD Bina Talenta, Erwin mengapresiasi konsep pembelajaran ramah yang diterapkan. Dengan jumlah siswa yang dibatasi hanya 10 orang per kelas, suasana belajar menjadi lebih kondusif dan perhatian guru terhadap siswa bisa lebih maksimal.
“Sekolah harus jadi tempat yang menyenangkan, bukan menakutkan. Anak-anak di sini saya yakin akan tumbuh jadi pribadi yang cerdas dan soleh,” katanya.













