Sebuah peti uang membuka sejarah Loireng
Ada ironi menarik dalam cerita ini.
Barangkali tiga orang yang masuk ke rumah Haji Said pada malam Januari 1904 tidak pernah membayangkan bahwa perbuatan mereka justru membuat nama korbannya tercatat dalam sejarah.
Andaikan pencurian itu tidak terjadi, mungkin De Locomotief tidak pernah menulis nama Haji Said.
Andaikan koran itu tidak menulisnya, lebih dari satu abad kemudian keluarga kami hanya memiliki cerita lisan bahwa dahulu di Loireng ada orang kaya bernama Haji Said yang berdagang kerbau sampai Batavia.
Sekarang cerita lisan itu mempunyai sebuah jangkar.
Haji Said memang ada. Ia tinggal di Desa Loireng. Dan pada Januari 1904, sebuah surat kabar kolonial mencatat bahwa dari peti uang di rumahnya dicuri uang tunai sebesar 1.950 gulden.













