Namun karena alasan investasi di bidang penerbangan dan bisnis ini sudah mulai menggeliat, maka tidak ada lagi pembatasan batas usia pesawat untuk jenis transportasi penumpang atau niaga. Inilah yang tercermin di negara yang menganut sistem kapitalis. Nyawa hanya dinomorduakan hanya karena alasan investasi. Meskipun banyak penumpang atau awak kapal yang semestinya masih hidup pada saat ini. Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air itu sudah qadarallah yang harus terjadi.
Tetapi, terlepas dari itu semua, mengapa pesawat yang ibaratnya sudah lanjut usia harus dipaksakan laik terbang, hanya karena demi mementingkan para investor dan mengejar pemasukan yang besar dan akhirnya pesawat yang sudah tua harus diterbangkan. Negara tidak memikirkan betapa sedih dan pilunya, para keluarga yang sudah ditinggalkan oleh keluarga yang dicintainya. Hingga seluruh penumpang menjadi korban kecelakaan. Meskipun ada santunan, akan tetapi nyawa tidaklah dapat kembali, negara sama sekali tidak memikirkan hal itu.













