“Program MBG didesain untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui ekosistem yang mandiri. Bahan baku pangan seperti beras, ayam, telur, dan sayur akan disuplai langsung oleh petani, peternak, dan nelayan lokal. Peran BUMDes dan koperasi juga akan dioptimalkan sebagai agregator rantai pasok menuju dapur pelayanan MBG,” ujar Achmad Ru’yat saat sosialisasikan program MBG di Tajur Halang, Bogor, Selasa, (10/3).
Ia menjelaskan bahwa setiap titik dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemanfaatan Gizi (SPPG) dirancang mampu melayani sekitar 2.000 hingga 3.000 penerima manfaat, sehingga keberadaan program ini diharapkan dapat memberikan dampak luas baik bagi kesehatan masyarakat maupun pertumbuhan ekonomi lokal.
Lebih lanjut, Achmad Ru’yat juga menekankan bahwa keberhasilan program ini memerlukan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, hingga masyarakat.












