Namun, ia mengingatkan bahwa, ketergantungan berlebihan pada konten yang dibangun AI dapat berdampak negatif.
“Dari tiga sumber itu, jika kualitasnya rendah, maka AI justru bisa meracuni. Semakin tidak cerdas datanya, semakin bodoh hasilnya,” ujarnya.
Agus menilai, situasi bisa menjadi semakin kompleks ketika mayoritas media menggunakan AI untuk produksi konten.
“Bayangkan jika dari 1.000 media, 900 di antaranya memakai AI. Kita bisa banjir konten, sementara kualitasnya belum tentu membaik,” katanya.
Ia juga menyoroti tantangan model bisnis media yang kian berat.
“Biaya produksi tinggi, persaingan iklan ketat. Pertanyaannya, jualannya di mana? Iklannya di mana? Dua tahun ke depan media massa di Indonesia akan seperti apa?” ujarnya.
Simposium Nasional SMSI tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif antara peserta dan narasumber. (Red).













