Bandung, BEDAnews
Tak banyak orang yang memilih penari sebagai profesinya, namun tak begitu dengan wanita asal Malang ini. Shakira, salah seorang warga Kota Malang menjadikan penari sebagai sumber kehidupannya.
“Rasa gembira, rasa sedih terkadang bisa hilang saat saya melakukan tarian, entah kenapa kesedihan atau kegembiraan rasanya terpuaskan usai menari,” ujar alumni Institut Seni Indonesia ini.
Menari, bagi Shakira selain sebagai sarana untuk mengekpresikan diri, namun lebih dari itu bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan profesi. Selain menyalurkan bakat dan minat, menjadi penaripun jika ditekuni dengan serius bisa menjadi sumber penghidupan yang layak.
Wanita yang lebih akrab dipanggil Shaki ini, selain sering manggung dari pentas ke pentas dibeberapa kota di Indonesia, diapun sempat mendapatkan beasiswa nari. “Sejak umur 16 tahun saya sudah mendapatkan beasiswa nari, malahan beberapa koran di Malang dan Jogyakarta pernah mempublikasikannya,” kata pemilik sebuah sanggar ini, saat berbincang di Bandung.
Kecintaannya pada dunia gerak ini tak diragukan lagi. Berbekal bakat dan latar belakang pendidikannya, Shakira ingin terus mengabdikan dirinya di dunia tari. Selain untuk melestarikan budaya di Indonesia, kecintaannya kepada seni tari ini dilakukan supaya eksistensi dunia tari terus menular dikalangan para pemula. Bahkan, bersama teman-teman seprofesinya, dia sudah membentuk sanggar khusus anak-anak disable.
Kedepan, Shakira bercita-cita ingin mengembangkan dunia tari ini dikalangan anak-anak penderita cacat yang berbakat. Alasannya, meskipun mereka memiliki kekurangan fisik, namun bakat dan minatnya terkadang bisa melebihi sebagian orang normal.
“Pengennya, saya punya sekolah tari khusus bagi anak-anak tuli, bisu dan penyandang cacat berbakat, supaya mereka bisa mandiri sekaligus mengembangkan potensi dirinya dibidang seni,“ pungkasnya. (Bubun M)











