CIMAHI, BEDAnews
Akibat kemiskinan yang menimpanya, Opik (54) warga RT 02/04 Kelurahan Karangmekar Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, terpaksa pasrah dengan kondisi penyakit yang dideritanya sejak tiga bulan lalu. Opik saat ini menderita gatal-gatal dan sekujur tubuhnya bernanah mulai dari ujung kaki dan seluruh badannya.
“Sejak saya menderita penyakit ini, saya belum pernah berobat, karena tak memiliki biaya, bukannya tak ingin sembuh tapi karena kondisi ekonomi saya terpuruk, akhirnya hanya bisa pasrah dengan keadaan ini,” terangnya, saat diajak berbincang dirumah mungilnya.
Dia bercerita, saat Idul Adha yang baru lalu, dirinya mendapatkan pemberian daging kurban satu kilogram. Daging kurban yang didapatnya lalu dia makan dan habis selama beberapa hari. Sesudah makan daging kurban itu, tubuhnya langsung gatal-gatal hingga bernanah, lama kelamaan gatal dan bernanah itu sampai sekujur tubuhnya. Dirinya sangat ingin untuk berobat, namun hingga sekarang belum karena tak punya ada biaya, katanya.
Opik tergolong miskin, tapi dia mengaku tak memiliki Kartu jamkesmas atau Gakinda, sehingga diapun tak bisa berbuat banyak. Namun, meskipun dia menderita sakit, dia tak berani untuk menyampaikan penyakitnya kepada para tetangganya dengan alasan malu.
”Saya malu untuk bercerita kepada tetangga, meskipun mereka baik-baik namun karena pada sibuk sayapun belum menceritakan kondisi penyakitnya kepada tetangga, meskipun keinginan untuk berobat sangat kuat,“ katanya.
Ekonomi keluarga Opik hancur, sehingga penghasilannyapun terbatas, dengan aktivitas yang dijalananiya saat ini sebagai pembuat kipas dari anyaman bamboo, seharinya dia hanya dapat penghasilan Rp. 15 ribu.
Penghasilan sebesar itu tentu saja tak mencukupi untuk memnuhi kebutuhan hidup keluarga. Karena penghasilannya terbatas, terpaksa setiap hari dia harus numpang makan kepada tetangga.
“Setiap hari, saya hanya makan sekali saja, itupun karena minta kepada salah seorang teteangga yang dulu pernah jadi pedagang. Setiap hari saya pergi ke rumah pak Hijrun untuk minta makan, beruntung dengan kebaikan keluarganya saya masih bisa makan, meskipun sehari hanya sekali saja,” ucapnya dengan nada bergetar.
Terpuruknya ekonomi Opik, terjadi setelah penggusuran kios dan lapak di Pasar Antri lama sekitar akhir 2003. Meskipun mendapatkan uang sekitar Rp. 1,5 juta dari hasil penjualan kiosnya kepada calo pasar saat itu, namun karena punya hutang, akhirnya uang yang adapun habis menutupi utangnya.
Dia berkisah, sejak 1973 jualan rokok di Pasar antri Cimahi, selama lima tahun, setelah itu sempat bekerja satu bulan, kemudian bekerja di pasar antri jadi pembantu di toko kelontongan. Sejak memiliki isteri pada 1979, diapun mulai mengontrak kios usahanya kemudian berkembang dan kemudian bertambah lagi satu kios.
Usahanyapun sempat berkembang, bahkan pada 1985 mampu membeli kios dan satu tumbak tanah seharga Rp. 500 ribu dan mampu membangun rumah di Cililin, sekarang rumah itu sudah dijualnya.
Saat masih memiliki kios, Opik jualan tusuk sate dan kipas, waktu itu omsetnya bisa mencapai Rp. 500 ribu perhari, bisa untung antara Rp. 50 ribu sampai Rp. 100 ribu, konsumennya dari jauh-jauh Cililin, Soreang, Cianjur atau pedagang sate asal Madura.
Tahun 2003 akhir ada penggusuran pasar antri lama, usahanya bangkrut, yang tertinggal cuma surat IPK, dibeli oleh calo di pasar seharga Rp. 1,5 juta habis dibayarkan hutang, keinginannya untuk berdagangpun sirna karena tak memiliki modal. (Bubun)











