“Saat itu, Soehartono Soesilo, Ketua IAI pertama, dan kawan-kawan bertekad memperkuat posisi profesi Arsitek, menyusun cara yang lebih baik untuk melayani kebutuhan masyarakat, seraya mencari dan menemukan jati dirinya sebagai ahli seni bangunan di alam Indonesia merdeka. Agenda Menuju Arsitektur Indonesia yang dilontarkan Prof. Ir.V.R.van Romondt tahun 1954, senantiasa menjadi obsesi segenap insan Arsitek Indonesia hingga saat ini, Bugar menegaskan.
Lebih lanjut ia memaparkan, di panggung internasional, beberapa karya Arsitek Indonesia telah diakui keistimewaannya. “Penataan Kampung Kali Code di Jogjakarta, Pembangunan Kawasan Citra Niaga di Samarinda, Masjid Said Naum di Jakarta, dan terakhir Bandara Banyuwangi,untuk menyebutkan empat saja, dianugerahi Aga Khan Award for Architecture. Di ranah cagar budaya, upaya pelestarian Gedung Arsip Nasional di Jakarta tahun 2001 dan pelestarian Kampung Wae Rebo di Flores tahun 2012, telah menerima UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation. Peristiwa itu membuktikan kualitas karya Arsitek Indonesia di tingkat dunia.” Lanjut Bugar.













