KAB. BANDUNG || bedanews.com — Bagaikan petir di siang hari hujan di tengah terik matahari, seperti sepele ucapan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, tapi mampu menghanyut biduk-biduk yang berlabuh. Bahkan cenderung tak memperhitungkan eksistensi dan kontribusi media terhadap pemerintahan.
Bisa jadi ungkapan KDM sapaan akrab Gubernur itu, berindikasi pada pelanggaran ITE. Karena mengkesampingkan peran dan fungsi wartawan selama ini. KDM besar oleh wartawan dan bertahta karena peran serta berita dari wartawan, lalu layakkah beliau mengungkapkan ketidakpentingan media secara visual, ini memang perlu dikaji kembali jangan sampai membuahkan pemikiran negatif bagi para pejuang karya tulis.
Mungkin ini bukan sebuah kesalahan yang perlu untuk intropeksi diri, bisa saja ungkapannya itu ada alasan tertentu. Tapi dari semua paparan tidak harus terjadi intervensi yang seolah mengarahkan pilar ke empat bagi negara menjadi tidak penting.
KDM memang sudah bukti ada “Gawe”, bahkan masyarakat Provinsi Jabar sangat menghormati dengan setiap tutur katanya serta menggugunya. Jabatanlah yang merupakan pilihan atas dasar kepercayaan masyarakat menjadikannya sebagai Pupuhu Ais Pangampih. Sikap dan ucapannya menjadi cermin bagi semua masyarakat. Meski pun sekarang terjadi ada rasa merasa diri besar, lupa darimana beliau bisa menjabat sekarang, menjadi sesal mendalam bagi para awak media.
Beliau adalah “Bapak Aink”, beliau panutan masyarakat Jawa Barat, harapan terbesar bagi para awak media, berlakulah bijak dalam bersikap, berlaku adil saat berbicara, jangan sampai karena terjadi kesalahan kata menimbulkan rasa sakit hati mendalam.
Teruslah berkarya KDM untuk Jawa Barat, jadilah pemimpin yang amanah yang bisa membawa masyarakat hidup rukun sauyunan, ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salebak, jangan sampai cul dogdog tinggal igeul, lupa darimana kebesarannya berasal.***











