Pertama: Nilai Edukasi Nasionalisme Apa yang Bisa Digali dari Hari Santri Nasional?;
Hari Santri bukan sekadar peringatan historis, tetapi pendidikan kebangsaan yang hidup. Nilai nasionalisme yang terkandung di dalamnya meliputi keikhlasan berjuang, cinta tanah air, dan keberanian menjaga martabat bangsa.
Sejarah mencatat, Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dipelopori KH. Hasyim Asy’ari menjadi titik balik perlawanan terhadap penjajahan. Dari pesantren lahir spirit “hubbul wathan minal iman”—cinta tanah air bagian dari iman. Nilai edukatif yang bisa digali adalah pembentukan karakter kebangsaan berbasis spiritualitas, di mana iman menjadi sumber kekuatan moral untuk mengabdi kepada negara. Santri tidak diajarkan untuk membenci bangsa lain, tetapi diajak menjaga kedaulatan dengan kasih, akhlak, dan ilmu. Dalam konteks kekinian, santri perlu memaknai nasionalisme sebagai komitmen etis untuk merawat keberagaman, bukan hanya simbol perjuangan masa lalu. Nasionalisme modern adalah kesediaan berkolaborasi lintas iman dan budaya, menjaga ruang digital dari ujaran kebencian, dan menebarkan semangat kebangsaan berbasis kemanusiaan.













