Dalam konteks sosial-politik terkini, bangsa baru saja memperingati satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran, diwarnai evaluasi publik dan tantangan keadaban. Di sisi lain, tragedi runtuhnya musala di Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, menjadi cermin tanggung jawab moral di dunia pendidikan Islam. Kedua peristiwa ini mempertegas bahwa iman, ilmu, dan amanah masih menjadi ujian utama bangsa.
Secara teoritik, gagasan ini dapat dirujuk pada teori pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara dan teori civic virtue dari Thomas Jefferson, yang menekankan bahwa kemajuan bangsa bergantung pada moralitas warganya. Sementara itu, teori masyarakat digital (Manuel Castells, 2010) menegaskan perlunya nilai dan identitas baru agar manusia tidak larut dalam arus teknologi. Namun, terdapat kesenjangan (GAP): santri hari ini hidup dalam dua dunia pesantren dan digital. Jika nilai-nilai pesantren tidak diaktualkan dalam ruang virtual, nasionalisme mudah tereduksi menjadi slogan. Karena itu, tulisan ini bertujuan menjawab tiga pertanyaan penting dari rekan media BEDANEWS tentang makna, peran, dan eksistensi santri dalam membangun peradaban bangsa di era digital.













