Sosok

Sang Legendaris Aktris Christine Hakim, Bintangi Film Kartini

Jakarta, BEDAnews.com

Siapa yang tidak kenal Christine Hakim?

Aktris kharismatis senior papan atas Indonesia ini sudah menjadi legenda tersendiri di dunia perfilman dan seni Tanah Air.

Selama lebih dari empat dekade berkarya di layar lebar, nama Christine Hakim telah menjadi jaminan mutu atas kualitas baik dari film yang dibintanginya. Hal ini terbukti dengan 7 Piala Citra yang sudah pernah diraihnya, terbanyak sepanjang sejarah sampai sekarang, termasuk Piala Citra khusus untuk Pencapaian Seumur Hidup (Lifetime Achievement Award) yang diraihnya tahun 2016 lalu.

Prestasi demi prestasi ini membuat Christine Hakim masih tetap terus berkarya, di saat banyak seniman di usianya sudah mulai mengurangi aktifitas mereka. Pesona Christine Hakim dalam memberi nafas kepada karakter yang dimainkannya masih tak tertandingi. Dan karya Christine sebagai aktris legendaris kali ini bisa kita saksikan dalam film Kartini, yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan diproduseri Robert Ronny.

Dalam film Kartini, Christine Hakim mempunyai peran penting sebagai Ngasirah, ibu kandung Kartini.

Meskipun sudah cukup sering memerankan karakter yang diangkat dari kisah nyata, namun Christine mengakui bahwa memerankan karakter yang pernah ada dalam catatan sejarah itu tidaklah mudah.

“Membuat film sejarah itu secara tidak langsung seperti merekonstruksi skenario Tuhan. Saya punya tanggung jawab moral yang lebih besar, jauh lebih besar dibanding karya-karya lainnya. Itulah sebabnya saya perlu menapak tilas kehidupan Ngasirah, Kartini dan kelurga Sosroningrat sampai ke Jepara, Rembang dan Kudus. Di samping itu, yang tidak kalah pentingnya, saya berusaha juga menapak tilas batin Ngasirah dan terutama Kartini,” ungkapnya saat Peluncuran film.

Baca Juga  Ocha, Notaris Cantik Sang Presiden Lions Club

Persiapan Christine Hakim untuk film Kartini memang tidak main-main. Keseriusan Christine menyiapkan peran Ngasirah terlihat dari intensitas yang dijalaninya.

“Tugas saya sebagai aktor adalah memahami dan menghidupkan peran yang diberikan. Termasuk bagaimana peran itu hidup, bernafas dan berinteraksi dengan karakter yang lain. Saya mencoba menganalisa Ngasirah dengan memahami tokoh-tokoh yang ada di dalam kehidupan Ngasirah, seperti Kartini, Sosroningrat, bagaimana karakternya. Bagaimana Sosroningrat di mata saudara-saudaranya, di mata Bupati yang lain, di mata Belanda. Kemudian bagaimana Kartini, Kardinah, Kartono dalam kehidupan kesehariannya,” imbuhnya.

Ini terlihat dari kesungguhan Christine Hakim dalam menyiapkan perannya sebagai Ngasirah, ibu kandung Kartini, untuk film Kartini, yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan diproduseri Robert Ronny.

Untuk bisa menghidupkan peran Ngasirah, yang mungkin tidak banyak diketahui oleh banyak masyarakat Indonesia, persiapan Christine tidak tanggung-tanggung. Dia sempat tinggal di set bangunan yang memang dibangun khusus untuk film Kartini beberapa hari sebelum syuting. Dia ikut membersihkan rumah tersebut, dan berpakaian selayaknya Ngasirah di luar syuting.

Baca Juga  Yani Asmawinata Aktivis Organisasi dengan Segudang Prestasi

Christine menambahkan, yang tersulit ketika memerankan Ngasirah adalah kompleksitas beliau sebagai anak seorang Kyai, lalu menjadi istri Bupati yang berdarah biru, walaupun sebagai istri pertama. :Jadi sulit bagaimana menentukan di satu pihak, dia bukan pembantu, di lain pihak status sosialnya di dalam tradisi kehidupan yang harus dia jalani agak lebih tinggi sedikit dari pembantu,” katanya.

Riset yang dalam dan serius yang dilakukan Christine Hakim untuk peran Ngasirah dan tokoh-tokoh lain di film Kartini membuatnya semakin mengagumi Kartini. “Dilema Kartini itu luar biasa besarnya. Bahwa pada akhirnya Kartini memilih untuk tinggal, tidak menerima beasiswa yang sudah dia dapatkan dari pemerintah Belanda, itu bukan kekalahan menurut saya, tapi itu suatu pilihan. Pilihan Kartini menurut saya tidak bisa dianggap sebagai kegagalan krn mempertahankan akar budaya bangsa juga penting. Bangsa yang tercabut dari akarnya, maka dia akan goyah,” tambahnya.

Ada perbedaan generasi antara Christine dan Hanung. Namun hal ini tidak menyurutkan kekaguman Christine terhadap Hanung dalam menyutradarai film Kartini.

Baca Juga  Ocha, Notaris Cantik Sang Presiden Lions Club

“Ini pertama kali saya bekerja dengan mas Hanung. Jadi, saya punya PR untuk memahami bagaimana bekerjasama dengan mas Hanung. Bagaimana bisa seirama sebagai partner kerja dan membentuk sebuah kolaborasi yang baik, sehingga hasil filmnya pun juga bisa dinikmati dengan baik,” ujarnya.

Harmonisasi menjadi penting bagi Christine, terutama untuk film Kartini, karena ini adalah film besar dengan jumlah pemeran yang besar juga. “Inilah tantangannya karena ada banyak sekali cast yang terlibat dalam film ini, jadi saya tidak bisa berpikir hanya untuk kepentingan saya sendiri. Tapi bagaimana caranya bisa menjadi sebuah orkestra yang harmoni. Yang saya syukuri dari pembuatan film ini, mas Hanung sangat terbuka untuk menerima masukan-masukan. Tentu saja masukannya tidak dari saya saja, tapi dari semua aktor atas peran mereka masing-masing, lalu kru dengan tingkat kesulitan masing-masing. Jadi, ini adalah sebuah ensemble, seperti sebuah orkestra yang konduktornya adalah mas Hanung, dan saya harus mengikuti irama itu. Karena kalau saya jalan dengan keinginan saya saja, nanti secara keseluruhan bisa melahirkan nada sumbang,” pungkasnya.

Seperti apa hasil dari orkestrasi indah sebuah film Kartini ini?

Mari kita saksikan di bioskop-bioskop seluruh Indonesia mulai 19 April 2017! (Red)

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close
Close