NasionalSosok

Rekam Jejaknya Sang Kolonel, Sepenggal Kisah dari Citarum Harum yang Berserak

(Oleh : Siti Sundari)

Kolonel Kav. Khusnul Khuluq, Figur prajurit yang unik! Sebutan sebagai seorang “tentara ustad” atau “ustad tentara”, mungkin pas buat dirinya. Kereligiusannya yang terjaga di setiap tempat, ucapan dan tindakannya yang selaras, keharmonisan rumah tangganya, isteri yang terpelajar dan intelek, dan seorang ayah yang hangat dari 2 puterinya yang kuliah kedokteran. Itulah selayang pandang gambaran Khusnul Khuluq yang menjadi “tamu istimewa” penulis kali ini.

Kurang lebih 5 tahun  sudah penulis mengenalnya. Sejak di Bintal, menjadi staf ahli Panglima, sampai menjadi Dansektor 10 Citarum Harum. Cukup lama juga Taruna Akmil 1989 itu bertugas di Bandung. Selama berdinas di Kodam III Siliwangi sudah terjadi 6 kali pergantian pejabat Pangdam. 

Tahun 2015 awal penulis mengenalnya, saat itu sosoknya masih terlihat “biasa-biasa” saja. Jabatannya sebagai Kabintal boleh dibilang “pelit informasi”. Sebagai seorang militer, Khusnul termasuk tentara yang amat berhati-hati dalam memberi keterangan. “Diam adalah emas”, mungkin itu prinsip hidupnya.

Yang menarik dari Khusnul hanyalah sikapnya yang tidak  pernah menolak jika diminta menjadi penceramah kegiatan ta’lim. 

“Saya ini tentara. Tentara itu kan harus selalu siap tugas apapun, dimana dan kapan pun,” ujarnya menanggapi pertanyaan tentang aktivitasnya yang sering tampil sebagai da’i dari masjid yang satu ke masjid yang lain.

Dan memang, siapapun yang mengundangnya, sipil atau militer, asal tidak pada jam dinas atau akhir pekan, kapan dan dimana pun perwira satu ini selalu siap. Dibayar atau tidak dibayar tak menjadi soal. Apalagi pasang tarif. Sebagai prajurit tak menghalanginya untuk berdakwah. Itu saja. Selebihnya seperti  tentara pada umumnya. Bicara cepat, singkat dan padat. Datang tepat waktu.

Setelah sekitar 2 tahun tugas di Bintal, suami dari drg. Wuri Astuti K, Sp.Ort., ini dipercaya menjadi staf ahli Panglima Kodam III Siliwangi. Setelah itu penulis lama kehilangan kontak. Terakhir penulis peroleh info  kalau mantan Kabintal itu sudah mengemban tugas khusus bersama 22 perwira lainnya sebagai Dansektor Citarum Harum  sejak tahun 2018 sampai sekarang.

“Komandan Sampah”, itu julukan yang amat menohok yang pernah penulis dengar. Julukan itu karena tugas sebagai Dansektor dinilai jabatan buangan karena “tidak terpakai” oleh panglima untuk menduduki jabatan struktural. Atau bisa jadi karena tugas sebagai Dansektor salah satunya adalah menangani tumpukan hamparan sampah Sungai Citarum.

Bersama rekan dari sektor lain selalu komunikasi dan diskusi bicarakan Citarum

Menurut data tak kurang dari 260 ton / hari limbah domestik dan industri tumpah ke sungai terpanjang di Jawa Barat ini. Saking banyaknya sampah industri dan domestik yang tiada henti masuk Sungai Citarum, sepertinya percuma saja para prajurit ditugaskan. “Seperti yang sudah-sudah, tak pernah berhasil,” itu kebanyakan pendapat orang yang begitu pesimistis.

“7 tahun berhasil? Nonsen! Terlalu singkat itu. Pemulihan Citarum butuh waktu lama bisa puluhan tahun. Pencemarannya sudah parah sekali,” ujar seorang pemerhati lingkungan yang enggan disebutkan namanya .

“Masa perwira kok nangani sampah. Jadi komandan sampah. Kondisi TNI memang lagi “galau”. Kalimat itu secara tak sengaja penulis dengar dari percakapan purnawirawan TNI AD seakan ada nada keprihatinan dengan diterjunkannya para perwira TNI AD pada Program Citarum Harum.

Soal julukan “Komandan Sampah”, perwira kelahiran Pasuruan itu datar-datar saja menanggapinya. Seperti biasa sosok yang dikenal amat religius ini tetap diam. Pribahasanya anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. 

“Orang yang bilang itu  tak mengerti. Jadi tak usah ditanggapi. Sekali lagi saya ini tentara. Seorang Prajurit. Tentara itu lahir dari rakyat. Saat panglima kasih tugas sebagai Dansektor Citarum Harum, itu kehormatan bagi saya. Karena apa. Itu untuk rakyat. Kepentingan rakyat. Saya dan kawan-kawan harus siap. Tugas itu amanah. Dan itu harus saya laksanakan sebaik-baiknya,” jelasnya dengan logat  Jawa Timurnya yang masih kental.

Sah-sah saja memang orang berpendapat dan berargumen atau meragukan keberhasilan program yang diluncurkan pada Februari 2018 lalu oleh Presiden ini. Karena saat penulis menyusuri sektor 6 dan 7 pada tahun 2018 di daerah Bojongsoang, Andir dan Baleendah tingkat pencemaran dan kerusakan sungai sepanjang 297 km2 itu memang sudah terlalu parah. Air sungai yang menghitam dan menyebarkan aroma busuk begitu menyengat hidung. Juga parit-parit kecil di sepanjang jalan yang dilalui di sekitar kecamatan Andir dan Baleendah berwarna warni tertutup sampah-sampah plastik.

Dua tahun kemudian, saat penulis kembali datang ke sektor 6, 7, 10 dan 12, penulis begitu terpana dan terkaget-kaget. Banyak cerita dan kisah yang bisa dipetik selama perjalanan dan penyusuran. Dari target 7 tahun selesai, baru 2 tahun  berjalan, air sungai tidak lagi menghitam dan digenangi sampah. Lebih bersih. Lebih indah dan daerah bantaran sungainya begitu tertata. Banyak pepohonan yang menghiasi DAS sungai yang melintasi 13 kabupaten/kota di Jawa Barat itu. 

Duet maut TNI-POLRI yang tegas, menegakkan aturan hukum yang berlaku dengan memberi sangsi hukum, membuat ketar-ketir pengusaha pabrik yang semula membandel jadi tidak lagi buang limbah ke Citarum.

Posko sektor 10 di Desa Mandalawangi Kec.Cipatat Kabupaten Bandung Barat

 DR. Baihaqi pemerhati lingkungan dari Citarum Institut kepada penulis mengakui kalau peranan TNI POLRI untuk keberhasilan program Citarum Harum amat signifikan.

“Tanpa mengurangi peranan elemen lainnya, peranan TNI pada program Citarum Harum dengan Dansektor – Dansektornya, menunjukkan perkembangan yang signifikan. Kini Sungai Citarum terlihat lebih bersih dan indah, tidak lagi hitam warnanya. Dari tingkat pencemaran berat, turun menjadi cemar sedang. Yang terkenal dan membuat saya terkesan adalah sektor 21 tuh dengan aksi pengecoran lubang limbah pabrik. Wah itu keren sekali,” jelas Baihaqi  lugas. 

Berbeda dengan program-program Citarum sebelumnya, seperti “Citarum Bergetar” (2001), ICWRMIP atau Integrated Citarum Water Resources Management Investment Program (2008), dan Program “Bestari” (2013) yang  tidak dirasakan tingkat keberhasilannya, Program “Citarum Harum” (2018) dengan target  7 tahun ke depan akan berhasil,  sekarang baru 2 tahun berjalan sudah dirasakan hasilnya.

Citarum Harum, program prestisius dan ambisius dalam  merevitalisasi dan rehabilitasi Sungai Citarum. Targetnya 7 tahun ke depan sejak dicanangkan adalah menjadikan air Citarum sebagai sumber air minum masyarakat Jawa Barat. Dengan dipayungi Peraturan Presiden No. 15 Tahun 2018 ini selain terlihat lebih terintegrasi, juga banyak melibatkan banyak unsur terkait. Tapi yang menonjol adalah melibatkan TNI-POLRI di dalamnya. 

Di awal pencanangannya, tidak kurang dari 7100 prajurit TNI diterjunkan yang tersebar di 23 sektor yang tiap sektornya dipimpin oleh  Dansektor. Targetnya adalah penanaman 125 juta pohon di DAS Citarum  seluas 6604 km2 dan sudah ditanam sebanyak 19000 bibit dari 230 bibit yang dipersiapkan.

Keberhasilan program Citarum Harum  selama 2 tahun berjalan, dengan peranan TNI- POLRI di dalamnya sudah tak diragukan lagi. Keberhasilan yang dirasa lebih cepat dari perkiraan banyak orang itu seakan menepis nada-nada sumbang dan pesimisitis. Bahkan banyak cerita  menarik yang mampir di hati penulis. 

Keberhasilan TNI Polri di proyek Citarum Harum ini meninggalkan pula sepenggal kisah yang begitu harum tentang rekam jejak seorang  prajuritnya di sektor 10. 

Dua tahun bertugas sebagai Dansektor dengan anggota 50 prajurit di wilayahnya, sudah banyak karya dan pengabdian yang dipersembahkan. Berkat kedekatannya dengan warga, poskonya  yang terletak di desa Mandalawangi Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat, merupakan pemberian warga yang dengan sukarela meminjamkannya tanpa harus membayar.  

Bersama Keluarga

Begitu banyak cerita tentang sosok seorang Khusnul khuluq. Di bawah pimpinannya, wilayah sektor 10 bukan hanya membuat bagian tengah sungai Citarum kian bersih dan elok, juga bersih dari segala tindak kriminal.

Peranika, Kades Mandalawangi, mengungkapkan kalau sejak kehadiran Khusnul sebagai Dansektor di  desanya, lingkungan  jadi bersih, indah dan  aman.

“Dulu desa kami karena letaknya di perbatasan, jadi ajang transaksi narkoba, sering tawuran, jadi ajang kebut-kebutan genk motor. Masyarakatnya buang sampah sembarangan. Setelah komandan datang alhamdulillah sekarang lingkungan jadi bersih, indah dan aman,” jelas Kades cantik itu kepada penulis di ruang kerjanya. 

Di mata Kades termuda pemda KBB itu, Dansektor 10 amat dicintai warganya. “Beliau bersama anggotanya sudah perbaiki stadion olah raga, perbaiki masjid. Membuat taman. Mendidik warga sadar lingkungan. Kehadirannya amat dirindukan ulama,” ungkapnya yang tanpa dibuat-dibuat. 

Lendra, salah seorang prajurit disektor 10 mengakui, kalau Khuluq sebagai  komandan,  hubungannya amat dekat dengan anggota, sering makan bersama dan selalu mengajak sholat tepat waktu dan berjamaah.

“Bila azan sudah terdengar, kami diperintahkan menghentikan kegiatan dan mengajak sholat berjamaah,” jelas Lendra.

Walau tegas dalam perintah, tapi perwira menengah yang tak lama lagi pindah tugas ke Jakarta sebagai Sesdisbintal AD itu, dikenal sebagai sosok yang perhatian dan berjiwa sosial.

Penulis saat menyusuri kawasan banjir sektor 6 dan 7 Citarum Harum

Perhatian yang diberikan bukan hanya terhadap keluarga tapi juga  anggotanya. Wuri Astuti, sang isteri yang dokter gigi, mengaku, walau berjauhan dan bertemu seminggu sekali, tidak menghalangi pria yang masa kecilnya tumbuh di lingkungan masjid itu  untuk selalu memberi perhatian penuh.

“Kalau  pulang ke Semarang, waktunya benar-benar untuk keluarga. Dia ajak kami jalan-jalan sekedar kuliner atau menikmati  wisata alam. Buatkan kita nasi goreng. Dan selalu kasih surprise dan support,” ujar dokter spesialis Orthodonti itu melalui sambungan telfon malu-malu.

Yang paling menarik dan unik, menurut info yang diterima penulis, konon sang Kolonel Khuluq suka melakukan operasi senyap sendiri atau ditemani supir. Bila malam tiba, punya waktu santai, suka pergi ke tempat-tempat tertentu. Kadang ke masjid atau mushola kecil, diam-diam memasukkan sumbangan ke kotak amal. Suatu saat pergi ke pusat kota dan memberikan sedekah kepada para gelandangan yang tidur di emper toko. Atau entah kemana lagi yang tentu itu adalah menjadi rahasianya bersama Tuhan yang rekam jejaknya sempat tercium penulis. 

Bagitulah sepenggal kisah sisi lain dari Citarum Harum. Ada seorang Khusnul Khuluq, sosok perwira yang mantan Kabintal Kodam III Siliwangi, staf ahli Pangdam, Dansektor 10 Citarum Harum. Informasi terakhir, Taruna kavaleri itu akan menduduki posnya yang baru sebagai Sesdisbintal MABES AD di Jakarta. Selamat ya Ndan!. ***

Selanjutnya

Related Articles

Back to top button
Close