Minimnya literasi sejarah, egoisme sektoral, ambisi kekuasaan, _delusion of grandeur_, dan kuatnya pengaruh/ intervensi asing diduga menjadi biang bangsa Indonesia kini menjadi bangsa labil, rentan diadu domba, mudah terprovokasi, dan _”minder wardig”_ alias tidak percaya diri.
Sudah bukan rahasia pascatragedi 1965, terlepas dari apa pun kita menyebutnya – G30S/ PKI, G30S, Gestok – pastinya kini bangsa Indonesia terbelah. Sudah tidak terhitung pemikiran terkait hal tersebut beredar di berbagai media, seperti koran/ majalah, radio, televisi, dan medsos.
Demikian pula berbagai penelitian dan forum ilmiah terkait peristiwa tersebut. Sayang semua konsep, proposal, atau apa pun juga namanya baru sebatas wacana, imajinasi atau angan-angan. Belum terlihat langkah berani dan tindakan konkret untuk menghentikan keterbelahan bangsa ini makin parah.











