Puncaknya tragedi berdarah dini hari tanggal 1 Oktober 1965 yang menelan korban tujuh perwira (6 jenderal + 1 letnan) TNI AD dan 1 warga sipil.
Walaupun telah lebih dari setengah abad peristiwa tersebut berlalu, tetapi dampak perpecahan dan ketidakharmonisan sesama anak bangsa hingga kini masih sangat terasa. Miris dan ironisnya, alih-alih bersedia duduk bersama, dialog, dan direkonsiliasikan agar bangsa ini kembali solid dan bersatu.
Sebaliknya dieksploitasi demi tujuan pragmatis dan kepentingan politik kelompok tertentu.
*Merintis jalan menuju rekonsiliasi nasional pascatragedi 1965*
Dari uraian tersebut di atas kesimpulannya ialah bangsa Indonesia sejatinya belumlah solid, bersatu, dan rawan perpecahan. Jauh dari pesan dan semangat persatuan yang dicita-citakan dan diteladankan para pendiri bangsa sesuai Sila ke-3 Pancasila, semboyan Bhinneka Tunggal Ika, dan lagu kebangsaan Indonesia Raya.













