Dua dekade pertama memasuki gerbang kemerdekaan merupakan periode terberat bangsa Indonesia. Tekanan bertubi-tubi datang dari luar dan dalam. Hanya selang beberapa hari setelah Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan, pasukan Sekutu (AFNEI) dengan NICA membonceng di belakangnya mendarat. Tidak kurang dari 14 pertempuran hebat berkobar di seluruh Indonesia menolak kehadiran mereka. Gaduh politik terjadi di pusat dan daerah.
Demikian pula permusuhan antar-partai/ golongan. Gonta-ganti kabinet hingga tujuh kali dalam sembilan tahun selama Demokrasi Liberal. Belum lagi pemberontakan dalam negeri, seperti DI/ TII, APRA, PRRI/ Permesta, dan RMS.
Berbagai upaya penyelamatan keluar dari krisis politik berkepanjangan yang dilakukan Sukarno, termasuk dengan penerapan Demokrasi Terpimpin, tidak membawa hasil. Sebaliknya situasi makin memburuk.













