Kempat; Kekacauan. Masa purna bakti dipersepsikan sebagai suatu bentuk ancaman dan peristiwa yang tidak mengenakkan. Adanya perasaan kehilangan peran, kesempatan untuk maju dan berkarya. Makna kerja bagi mereka adalah suatu identitas diri. seolah-olah tanpa kerja orang kehilangan identitas dan keberartian diri. Kelompok inilah yang paling banyak muncul di masyarakat.
Untuk hal itu Savitri (1990) dalam penelitianya menyimpulkan bahwa; “Masa purna bakti sering menimbulkan distress, Hal ini dikarenakan masa puma bakii adalah masa di mana orang akan menghadapi kondisi powerless, kehilangan status tertentu. Hal lni biasanya lebih tampak pada laki-laki. Bagi laki-1aki, kerja mempunyai arti yang penting bagl aktuallsasi diri. Dengan puma bakti (pensiun), seolah-olah para laki-laki kehilangan powernya. Apakah benar semua powernya hilang? Pada dasarnya, yang hilang adalah legitimated power artinya sudah sah mendapatkan Surat Keputusan pensiun untuk tidak bekerja lagi ditempat dan kedudukan yang sama. Dampaknya memang cukup luas yaitu information power-pun juga semakin berkurang, dan coercive power (kekuasaan untuk memaksa) pun juga semakin berkurang. Hal ini penting sekali di jaman tekologi imformasi digital, di mana informasi memegang peran yang penting dalam menjalin relasi dengan instansi lain ataupun kekuatan kekuatan memaksa instansi-instansi di bawahnya. Namun demikian charatismatlc power dan expert power sebenarnya tidak hilang karena power tersebut melekat dalam diri. Jadi purna bakti atau tidak, ia akan tetap mempunyai kharisma untuk memimpin (charatismatic power) dan berkuasa terhadap suatu keahlian (expert power). Jika orang merasa kehilangan power-nya, maka ia akan menunjukkan gejala post-power syndrome atau sindroma pasca kekuasaan.













