Demikian pula Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij as-Salikin menegaskan bahwa ibadah yang benar akan melahirkan transformasi batin yang tampak dalam perilaku manusia sehari-hari. Ibadah tidak hanya berhenti pada ritual, tetapi harus melahirkan akhlak yang lebih lembut, lebih sabar, dan lebih peduli terhadap sesama. Sementara itu, Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin mengumpulkan berbagai hadis yang menunjukkan bahwa kesempurnaan iman tampak pada akhlak yang baik, seperti menjaga lisan, menahan amarah, dan memberi manfaat kepada manusia.
Karena itu, para ulama sering menegaskan bahwa orang yang berhasil menjalani Ramadan akan lahir kembali sebagai manusia yang lebih baik, “manusia Baru” dengan Ke-Fitian-nya, seakan-akan menjadi manusia baru yang hatinya lebih bersih dan perilakunya lebih mulia. Dari refleksi tersebut, setidaknya terdapat tujuh tanda manusia baru setelah Ramadan, yaitu sebagai berikut:













