Faktor kedua di atas memberikan penjelasan bahwa radikalisme terjadi dimana saja bahkan di setiap negara mengalami beragam organisasi radikal. Oleh karena itu dakwah sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan situasi sosial masyarakat setempat. Dakwah dalam pandangan mahasiswa dapat dilakukan kapan saja dan dengan apa saja.
Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia Ridlwan Habib mengatakan mahasiswa adalah pihak yang sangat rentan terpapar radikalisme atau paham radikal. Namun, paham tersebut juga berpotensi dapat menjangkiti semua kalangan. Hal tersebut terjadi, kata Ridlwan, karena rata-rata mahasiswa masih dalam taraf mencari paradigma baru dalam memahami agama, sementara kurikulum di perguruan tinggi khususnya negeri, kurang mencukupi untuk memenuhi pengetahuan mereka. “Misalnya masih sangat dogmatis , misalnya soal iman. Tapi hal-hal yang kekinian misalnya perlukah kita mendirikan khilafah, bagaimana sebenarnya sejarah khilafah secara historis itu tidak bisa di perguruan tinggi negeri itu,” kata Ridlwan kepada VOA, Sabtu (28/5).













