Selain sebagai pelukis, ia dikenal juga sebagai budayawan Sunda yang secara tak langsung sudah mengangkat daerah dengan kepiawaiannya, tapi diakuinya seolah kurang dihargai kiprahnya, sehingga ia lebih dikenal di luar Kabupaten Bandung.
Ia tak pudar semangat, malah sebaliknya keadaan tersebut seolah memotivasi dirinya untuk terus berkarya dan memperlihatkan bahwa masih ada yang peduli dengan keberadaannya dengan menjadikan dirinya sebagai bagian dari pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia.
Ketika keinginan muncul melalui tarian jarinya tercipta karya lukisan indah, dan ketika ia berbuat dalam bentuk kepedulian daerahnya, ia seolah bertanya, mengapa di daerah lain dan di negeri orang dirinya mendapat pengakuan, “Mungkin itu yang membedakan dirinya, karena bunga bukan dikenal karena keberadaannya, melainkan karena keindahan dan wanginya,” pungkasnya.***













