Menurutnya, perempuan memiliki daya tangkal yang tinggi karena memiliki pengetahuan terkait bahayanya radikalisme, terutama dari serangan media sosial dan digital.
Sementara, Nilam Ayuningtyas menjelaskan bagaimana perempuan menjadi agen perdamaian. Dengan potensi keperempuanannya seorang Ibu cukup berperan penting menjadikan keluarga memiliki daya tangkal terhadap paham radikalisme. “Hal ini perlu dilakukan mengingat keterlibatan perempuan dalam radikalisme semakin meningkat,” tandasnya.
Baginya, keterlibatan perempuan dalam radikalisme paling tidak terpola menjadi tiga bentuk peran yaitu: Pertama, sebagai pendamping setia dengan peran domestik, yaitu sebagai istri, pengikut setia, dan ibu dari calon-calon teroris.
Kedua, Ahli propaganda dan agen perekrutan. Para perempuan dilarang bertempur secara langsung namun diberikan peran di dunia maya sebagai ahli propaganda, pendakwah, dan perekrut bagi kelompok radikal.













