Bagi Kartini, pendidikan bukan gelar semata, tetapi perubahan hidup. “Ini menjadi kritik bagi Gen Z agar tidak sekadar mengejar sertifikat, namun mengejar makna dan kontribusi. Kartini belajar lewat surat-menyurat meski dipingit, mirip forum online zaman dulu. Ini mengedukasi Gen Z untuk tetap produktif dan berwawasan luas meski dalam keterbatasan ruang,” tambah Prof. Lilis.
5. Kolaborasi Lintas Batas
Kartini berkorespondensi dengan feminis Belanda Stella Zeehandelaar untuk mendapatkan wawasan dan dukungan. Gen Z bisa belajar bahwa perubahan butuh kolaborasi lintas budaya, profesi, dan negara, bukan hanya gerakan individualistis di media sosial.
Sosok Kartini yang Dibutuhkan dalam Konteks Indonesia Emas 2045
Prof. Lilis menegaskan, Indonesia Emas membutuhkan Kartini dengan karakter techno-visionary yang peka teknologi tapi kritis, inklusif dan kolaboratif, serta berintegritas dan berkarakter. “Kartini masa depan tidak hanya memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan Jawa priyayi, tapi juga untuk perempuan difabel, minoritas, buruh pabrik, dan anak muda di daerah 3T. Indonesia Emas memerlukan pemimpin yang peduli pada ketimpangan digital, ekonomi, dan sosial,” ujarnya.













