3. Berbagai kebanggaan semu yang menjadi keyakinan sebagai nilai-nilai budaya yang terus ditumbuh-kembangkan. Sehingga susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah,
4. Orientasinya bukan pada peningkatan kualitas hidup rakyatnya, tetapi untuk kesenangan pribadi, golongan dan kelompoknya. Sehingga dalam semangatnya terus saja memperkeruh suasana untuk keuntungan-keuntungan baginya yang menggerogoti rakyatnya,
5. Politiknya penguasaan dan kekuasaan dengan cara-cara kotor dan memalukan, Pemerasan, penyuapan, dan berbagai pungutan tidak resmi menjadi pemandangan yang biasa ditemukan dalam birokrasi, bahkan dianggap telah membudaya (sebagai habitus) yang dipertahankan para kelompok status quo/ comfort zone. Apa yang diselenggarakan penuh kepura-puraan dan supervisial, semuanya semu (tipu-tipu/pseudo) dan sebatas seremonial dalam program-program birokrasi. Pemimpinnya sering merupakan produk hutang budi, tidak berkompetensi dan tidak mampu dijadikan role model sehingga kebijakan dan transformasinya kacau dan mengacaukan yang bisa ngerusuhi/dirusuhi.













