“Niatnya tentu dalam konteks toleransi dan menghargai komunitas beragama yang beragam. Niat ini bagus, karena memang dalam konteks keberagamaan dalam keragaman, toleransi itu harus dijunjung tinggi.” Ungkap Rosihon yang juga Pengurus NU Wilayah Jawa barat.
Dijelaskan Rosihon,karena niatnya sudah didapat, maka kita harus fokus kepada niat itu. Tidak usah melebar ke sana-sini. Jadi, terkait dengan wawancara Menteri Agama yang viral tersebut, kita sejatinya fokus kepada niat tersebut.
“ Saya yakin seyakin-yakinnya Menteri Agama tidak ada naiatan membandingkan suara lantunan azan dengan suara gonggongan anjing. Atau—sekali lagi—tidak ada niatan untuk mendeskreditkan azan.” Ujarnya.
Sebab,lanjut Rosihon dari awal sudah menangkap bahwa niatnya adalah niat semangat moderasi beragama tersebut. Niat mengedepankan saling menghormati antar pemeluk agama. Buktinya, di wawancara yang sama, toh Menteri Agama memperbolehkan penggunaan toa/speaker secara rapih, termasuk untuk azan.***













