Namun, jika harus menunjuk siapa yang paling bertanggung jawab atas polemik dan pro kontra ini, maka jawabannya mungkin adalah mantan Presiden Jokowi sendiri. Sebagai tokoh publik—terlebih lagi sebagai presiden dua periode—Jokowi memikul tanggung jawab moral untuk menjernihkan fitnah atau kecurigaan yang muncul terhadap dirinya dengan cara yang elegan dan terbuka.
*Solusi Jitu dan Meneladani Langkah Obama*
Dalam menghadapi masalah tuduhan dugaan ijazah palsu, seharusnya, Presiden ke-7 Jokowi menunjukkan ijazah aslinya sejak awal tuduhan dugaan ijazah palsu itu mencuat. Bukan malah membiarkan isu berkembang liar di ruang publik, apalagi jika respons yang ditunjukkan cenderung membungkam, menghindar, atau menunda klarifikasi.
Sikap Jokowi semacam itu justru memicu polemik dan pro kontra yang berkepanjangan serta melemahkan kepercayaan publik. Bahkan saat ini, sepertinya masyarakat telah terbelah menjadi dua kubu: yang mendukung dan yang menentang terkait isu ini. Kondisi ini jelas merugikan, karena berpotensi menimbulkan kegaduhan yang dapat mengganggu stabilitas dan konsentrasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan agenda-agenda nasional.













