Oleh: Muhammad Rofik Mualimin
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Pernahkah Anda membayangkan betapa rumitnya memverifikasi sebuah informasi di zaman ketika internet, ponsel pintar, atau media sosial belum lahir? Di abad ke-17, ketika arus perdagangan rempah memenuhi perairan Nusantara, terjadi pula pengembaraan intelektual yang luar biasa: pencarian mata rantai keilmuan atau sanad hadis hingga menyambung langsung ke Baginda Nabi Muhammad SAW.
Dua sosok utama dalam panggung sejarah ini adalah Nuruddin ar-Raniri dan Abdurrahman Rauf Singkel. Keduanya tidak cuma datang membawa kitab, melainkan membawa standar keilmuan yang amat ketat ke tengah masyarakat awam. Syekh Abdurrahman Rauf Singkel, sekembalinya dari Haramain setelah berguru puluhan tahun, menulis naskah monumental Sullamul al-Mustafidin (Banda Aceh: Majelis Ulama Aceh, 1984, hlm. 45). Di dalamnya, ia menekankan pentingnya ijazah dan silsilah transmisi agar masyarakat Melayu tidak mudah terkecoh oleh riwayat palsu atau pemahaman mistis yang kebablasan.
Pendekatan ini berbenturan sekaligus melengkapi kondisi riil di tingkat akar rumput. Masyarakat pesisir saat itu sangat menggemari kisah-kisah tutur dan tradisi lisan. Nuruddin ar-Raniri dalam karyanya Bustan al-Salatin (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966, hlm. 88) mulai memperkenalkan analisis kritis terhadap riwayat yang beredar di istana maupun pasar-pasar Kesultanan Aceh. Ia mengajarkan bahwa sebuah hadis tidak bisa diterima hanya karena kedengarannya indah, tetapi harus memiliki keabsahan perawi yang jelas.
Perspektif internasional mengenai pergerakan sanad ini dicatat dengan cermat oleh peneliti Barat. A.J. Drewes dalam Directions for Travellers on the Mystical Path (The Hague: Martinus Nijhoff, 1977, hlm. 14) menggarisbawahi bahwa jaringan ulama Melayu-Indonesia abad ke-17 memiliki kedudukan sejajar dalam peta keilmuan Timur Tengah. Sementara itu, kajian orientalis Jerman Carl Brockelmann dalam Geschichte der Arabischen Litteratur (Leiden: E.J. Brill, 1949, Volume. 2, hlm. 412) mengkonfirmasi betapa ulama Nusantara aktif mengarang kitab berbahasa Arab dan Melayu yang dirujuk hingga ke Semenanjung Arabia.
Perjuangan transmisi sanad abad ke-17 ini memberikan pelajaran berharga bagi kehidupan modern kita hari ini. Di tengah serbuan disinformasi dan potongan berita tanpa sumber di grup obrolan keluarga, ketelitian ulama masa lalu dalam merawat mata rantai informasi adalah warisan kebudayaan yang sangat relevan. Melacak sanad bukan sekadar formalitas akademik, melainkan bentuk tanggung jawab moral agar kebenaran tetap murni dan tidak terdistorsi oleh zaman.***
Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.













