Garut, BEDAnews
Musim kemarau adalah musim layangan, permainan tradisional ini memang tidak asing lagi khususnya di kabupaten Garut, namun layang layang sekarang berbeda dengan yang dulu. Benang layangan terutama layangan untuk diadu, tidak lagi menggunakan benang biasa, tapi kawat yang sudah dilumuri gelasan.
Kalau hanya untuk kepentingan pemain layangan sih tidak apa apa, namun ada akibat negatif yang timbul dari penggunaan benang kawat ini, yaitu fasilitas PLN seperti kabel atau trafo yang kadang rusak karena terkena benang kawat ini, dan kemudian menimbulkan korsleting, sehingga listrik menjadi padam.
"Ekses dari pemadaman ini pastinya PLN sebagai penanggung jawab soal listrik di Indonesia, padahal pemadaman ini seringkali akibat dari benang kawat layangan yang menyebabkan kabel atau sebuah trafo meledak, selain masyarakat yang dirugikan, PLN juga ikut merugi karena traffo yang rusak," demikian tutur Humas PLN Area Garut, Wahyudin didampingi Dion, Asman Distribusi saat ditemui di kantor PLN Area Garut, Jl. Otista, Senin (25/06).
Sebagai contoh, pada Minggu (24/06) lalu Traffo didepan DPRD Garut, Jl. Patriot meledak sampai 4 kali, setelah sebelumnya jam 03.00 WIB atau subuh hari terlihat percikan pertama kalinya oleh warga. Hal ini tentu konsekwensinya pemadaman harus dilakukan, setelah dicek oleh petugas PLN, trafo 20.000 watt tersebut memang rusak dan harus segera diganti, harga travo itu sendiri adalah sekitar Rp. 80 juta.
Untuk mengantisipasi ini pihak PLN sendiri pada 22 Agustus 2010 yang lalu telah mengusulkan kepada pihak pemkab Garut agar segera dibuat perda tentang layang layang, sehingga penggunaan benang kawat pada layangan tidak dilakukan oleh para penghobi permainan layangan. Namun entah mengapa perda tersebut sampai saat ini belum dirancang, padahal kerusakan fasiltas PLN akibat benang kawat layangan ini sudah sering terjadi.
Wawan, salah seorang tokoh masyarakat desa Gandasari kecamatan Cilawu berkomentar mengenai hal ini, dirinya sepakat agar perda tentang layangan segera dibuat.
"Selama ini masyarakat kan tidak tahu apa sebab pemadaman dilakukan, mereka seringkali menghujat PLN, padahal ternyata seringkali pemadaman dilakukan karena fasilitas PLN yang rusak akibat dari benang kawat layangan, apalagi sekarang musim kemarau," katanya.
Wawan juga menyarankan kepada para penghobi permainan layangan agar jangan menggunakan benang kawat, kalau bisa kembalilah seperti dulu, dimana benang layangan hanyalah benang biasa yang tidak mengakibatkan kerusakan pada fasilitas lain, pungkasnya. (Yuyus)













