Jakarta – bedanews.com – Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa, pemerintah telah memutuskan untuk mengalihkan sebagian subsidi dari bahan bakar minyak (BBM) untuk bantuan yang lebih tepat sasaran. Dengan adanya penyesuaian harga BBM bersubsidi ini, diharapkan dapat mengoptimalkan bantuan dan subsidi pada sektor produktif lain, seperti Pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
Executive Director Energy Watch, Mamit Setiawan mengatakan, Negara selama ini telah menanggung beban subsidi energi yang sangat berat, yaitu sekitar 502 Triliun. Karenanya subsidi yang saat ini sudah menjadi beban bagi APBN, harga minyak dunia sedang tinggi, kurs mata uang Indonesia juga sedang terdepresiasi, akhirnya ketika diakumulasi jumlahnya sangat besar.
“Pada Oktober mendatang Pertalite dan Solar akan habis, jika tidak ditambah kuotanya akan habis, dengan demikian, masyarakat tidak akan mendapatkan BBM subsidi pada November hingga Desember. Jika ingin ditambah dibutuhkan dana hingga 170 Triliun, yang mana ini sangat memberatkan keuangan Negara jika subsidi ini terus dilakukan,” ujar Mamit melalui keterangannya, Jum’at (9/9).











