Garut, BEDAnews
Pencarian terhadap satu korban tanah longsor di Puncak Lancang, Kecamatan Semarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat dihentikan setelah tujuh hari sesuai ketentuan pada Jumat (26/4) Sore.
Sebanyak dua dari tiga orang korban dalam bencana itu, Elah (49) dan Juhaenah (44), jenazahnya sudah ditemukan, sementara seorang lagi, Enoh (53), belum ditemukan diduga masih tertimbun longsor.
“Kita sudah berupaya semaksimal mungkin melakukan pencarian, tapi selama tujuh hari ini satu korban belum berhasil kami temukan," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Zatzat Munajat, kepada BEDAnews.com, Sabtu (27/4/2013).
Ia mengatakan, BPBD dan tim gabungan lainnya sudah berupaya maksimal untuk mencari satu korban lagi, tapi tidak juga membuahkan hasil. Sebenarnya kita juga ingin terus melakukan pencarian sampai korban ditemukan, tapi kami juga memiliki keterbatasan sehingga proses pencarian dihentikan sesuai ketentuan, jelas Zatzat.
Aceng (20), salah seorang anak Enoh berharap pemerintah dan tim lain dapat melanjutkan pencarian hingga korban dapat ditemukan. “Keinginan saya kalau bisa pencarian waktunya ditambah sampai hari Minggu (28/4), tapi kalau tidak bisa tidak apa-apa saya berterima kasih atas bantuannya," kata Aceng.
Bencana longsor itu menimbun tiga orang perempuan yang sedang beraktivitas di kebun lahan Perhutani, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang atau di sekitar lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, Pertamina Kamojang, Sabtu (20/4) lalu.
Jasad Elah ditemukan pada Selasa (23/4/2013) di dasar tebing tertimbun tanah, sedangkan jenazah Juhaenah ditemukan hari ini pukul 10.30 WIB tiga meter dari lokasi ditemukannya Elah, ungkapnya.
"Sebenarnya pencarian selama tujuh hari, sampai Jumat sesuai aturan. Tapi keluarga korban masih penasaran, maka kami bantu dengan perpanjang waktu pencarian," kata Kepala BPBD Kabupaten Garut, Zatzat Munajat usai melakukan pencarian korban, Sabtu (27/4/2013).
Ia mengatakan perpanjangan waktu pencarian hanya dilakukan selama setengah hari atau sampai pukul 12.00 WIB dengan mengerahkan sejumlah anggota TNI/Polri, petugas Pertamina, relawan bencana, dibantu masyarakat. Namun pencarian dengan menggunakan peralatan cangkul itu, tidak berhasil menemukan atau tanda-tanda lain keberadaan korban longsor.
“Kami sudah melakukan upaya semaksimal mungkin tapi korban Enoh sampai siang ini tidak ditemukan," katanya. Ia menjelaskan alasan batas waktu dihentikannya pencarian korban karena keterbatasan tenaga dan tingkat kejenuhan sejumlah tim yang dikerahkan dalam pencarian itu. Selain itu, bencana alam bukan hanya terjadi di Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang.
Namun sejumlah daerah lain di Garut pun dilanda bencana longsor dan jembatan ambruk. Selama tujuh hari ini kita fokus mencari korban longsor disini (Puncak Lancang), makanya kami hentikan karena harus melakukan penanggulangan bencana di daerah lainnya," jelas Zatzat.
Kepala Desa Sukakarya, Asep Hamdani, meminta keluarga korban tidak melakukan pencarian sendirian atau tanpa sepengetahuan BPBD dan aparat yang berwenang. Menurut dia, Puncak Lancang merupakan kawasan rawan pergerakan tanah, jika masyarakat memaksakan diri mencari korban, khawatir terjadi longsor susulan. “Lokasi itu rawan longsor, masyarakat jangan lagi ke lokasi itu karena takut nanti ada korban jiwa lagi," kata Asep.
Sebelumnya, bencana longsor itu menimbun tiga orang perempuan yang sedang beraktivitas di kebun lahan Perhutani atau sekitar lokasi operasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, Pertamina Kamojang, ujarnya. (yanti)











