Malang, BEDAnews
Ada sesuatu yang mengharukan disampaikan seorang pelatih tari asal Malang, Amelia Shakira saat mengajak anak kurang mampu binaannya. Dalam email yang diterima BEDAnews, Selasa (19/3) alumni Institut Seni Indonesia ini menuturkan rasa harunya saat mengajak anak-anak kurang mampu mengikuti acara “Outing” di Kebun Teh Lawang, Malang Jawa Timur ini.
Dalam emailnya, Shakira berceritera, sejak pagi pukul 07.00 dia bersama anak asuhnya yang rata-rata kurang mampu, sudah siap berangkat menuju kebun raya. “Saking semangatnya…sampai beberapa anak datang pukul 06.00 pagi luar biasa semangat mereka,” katanya.
Dia bertutur, pagi itu cuaca panas dan gerah, perjalanan lancar walau macet sampai satu jam. Diperjalanan, salah satu anak yang mabuk darat, muntah-muntah di dalam mobil alhasil semua anak berteriak minta turun karena jijik. Akhirnya mobil menepi supaya anak-anak mendapat udara segar.
“Waktu saya tanya kenapa muntah karena belum makan,atau masuk angin, si anak menggeleng sambil menundukkan kepala, ternyata si anak belum pernah naik mobil dan belum pernah pergi jalan-jalan,“ saya jadi terharu mendengarnya.
Singkat cerita, setiba di lokasi, diawali dengan doa sesuai dengan keyakinan masing2. kemuadian dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang arti seni dan pentingnya bagi anak-anak . Lalu, dilanjutkan dengan "olah rasa", memejamkan mata, rilex, bereksplorasi dan ekspresi.
“Bagian acara ini yang ditunggu anak-anak, mereka mulai dituntun memikirkan hal-hal yang sudah terjadi dihari-hari kemarin, dan hari ini, mengingat kembali kesalahan yang sudah kita perbuat, mengingat kesedihan kita, kemarahan, kekecewaan, kegembiraan.
Saat itu anak-anak bebas berekspresi….siapa yang marah keluarkan kemarahan itu, siapa yang sedih dan kecewa keluarkan semua rasa itu jangan sampai menyimpannya, mereka bebas tertawa, menangis, marah. Dari bagian acara inilah mereka menuangkan rasa yang tidak dapat diungkapkan,“ jelasnya.
Shakie, panggilan akrabnya menambahkan, bila dituntun untuk olah rasa maka anak dapat menari dengan baik dan menghayati perannya dalam sebuah tarian. Mereka juga harus menuliskan semua yang ada dalam pikiran mereka, boleh ditulis dalam sebuah puisi atau berupa karangan, baru dilanjutkan menari sesuai dengan kelompoknya.
“Dengan latihan seperti ini, sangat luar biasa, karena semangat mereka tidak perlu diragukan lagi semua menari dengan semangat dan bebas berekspresi,“ tutupnya. (Bubun M)











