Garut, BEDAnews
Kesenian tradisional merupakan salah satu bagian hidup bagi masyarakat dalam suatu kaum yang timbul dari nenek moyang hingga dijadikan tradisi yang tak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Namun semua itu, bisa musnah terseret oleh perkembangan jaman yang semakin canggih, akibat ketidak pedulian masyarakat untuk melestarikan (ngamumule) tradisi warisan nenek moyang tersebut.
Lebih parah lagi, apabila pihak pemerintah tidak peduli terhadap keberadaan kesenian tradisional. Padahal, seni warisan orang terdahulu itu sangat berjasa dalam berbagai bidang, salah satunya menjadi alat penyebar ajaran agama Islam di negara Republik ini.
Terbukti dalam rangkaian kegiatan hari jadi Kabupaten Garut ke-199, yang dilaksanakan Jum’at-Minggu lalu, digelar seni sunda buhun dan bernuansa Islami. Diantaranya, upacara adat, kawih Cipagelaran seni sunda baik pencak silat, singa depok, debus, calung, reog badeng dan seni jaipongan aktipitas masyarakat sangatlah kurang, tutur Camat kecamatan Malangbong kabupaten Garut Rena Sudrajat kepada Bedanews.com.
Menurutnya, acara pagelaran seni tradisional Sunda bertujuan agar seluruh masyarakat tidak melupakan budaya yang kini tengah mengalami masa transisi. Antusias warga-pun menyambut positif acara pagelaran budaya sunda dan mendapat dukungan penuh dari seluruh kepala desa yang tersebar di Malangbong.
Diungkapkan Rena, untuk mengembalikan citra seni budaya sunda tentu saja tak lepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) berupa alokasi anggaran. Di wilayahnya, telah tersedia sebuah bangunan dan alat-alat seni penunjangnya, itu salah satu pendukung berkembangnya seni tradisonal khususnya di kabupaten Garut.
Salah satunya adalah agar Pihak Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) harus terus melakukan penyempurnaan sarana dan prasarana untuk keperluan seni sunda.” Kami bersyukur, pagelaran seni budaya mendapat respon positif dari semua pihak,” tutur Rena.
Agar seni buhun tetap melekat dan mengakar dihati seluruh masyarakat, pihaknya berencana tahun depan menyelenggarakan se-wilayah Garut Utara. “Insya Allah, untuk tahun depan kami akan mengelar acara budaya tradisional se Garut Utara,” tuturnya.
Sedangkan menurut Kabid kebudayaan Drs. Warjita, masyarakat banyak salah menafsirkan tentang “Budaya”. Mereka berasumsi dan menganggap seni hal yang berbau mistik. Padahal sebenarnya kebiasaan atau adat suatu daerah, agar menjadi kebudayaan yang handal dan profesional perlu adanya evaluasi/intropeksi agar potensi diri sendiri bisa tergali dan terus dikembangkan.
Selain itu, manajemen budaya pengelolaan waktunya pun, kerap terlupakan dalam arti kebanyakan masyarakat hanya memikirkan keberhasilan serta potensi orang lain saja. Dari 24 jam, berapa jam kita memikirkan potensi diri sendiri? tutur Warjita.
Melalui hal tersebut, kita dapat mengukur kemampuan dan potensi diri agar bisa maju. Lingkungan merupakan salah satu faktor penunjangnya dengan bersilaturahmi untuk bertukar pendapat.
Yang jelas, tambah Warjita, baik seni maupun budaya, termasuk sejarah peninggalan nenek moyang yang ada di kabupaten Garut, itu harus terus dikembangkan dan digali oleh para pengembangnya, dan jangan sampai punah terhempas oleh globaliasi.
“Sayang jika budaya, seni, dan sejarah di kabupaten Garut tidak dikembangkan dan terhempas globalisasi,” kata Warjita kepada bedanews.com diruang kerjanya. (Sighar)











