Karya karya Raden Saleh lainnya berupa perkelahian antara banteng dengan harimau maupun perkelahian dengan singa, perburuan yang merupakan suatu simbol perlawanan terhadap kolonialisme melalui seni yang ikonik. Karya karya pada masa orde baru orde reformasi sarat dengan kritik atau sindiran atas politik hukum kemanusiaan hingga ketidak adilan. Gambar-gambar karikatur mulai muncul pada masa pra kemerdekaan yang menjadi tajuk visual pada surat kabar. Kita dapat melihat karya-karya Agustin Sibarani, GM Sudarta, Pramono Pramoedjo, Dwi koendoro, Priyanto Sunarto, dll.
Karya karya karikatur yang kartunal menjadi trend karikatur kritis namun ada humornya. Mempletat pletotkan wajah pejabat atau oramg orang terkenal memerlukan kepiawaian tersendiri untuk melebih lebihkan yang lebih dan mengurang ngurangi yang kurang. Pemikiran dan kepiawaian menggambar menjadi suatu kesatuan memvisualkan ide gagasan dalam karikatur yg kartunal. Dalam nada dan suara lagu dengan syair balada atau lagu lagu ala country yang dinyanyikan Iwan Fals, Doel Sumbang, Leo Kristi, Franky Sahilatua dll juga merupakan penggabungan imajinasi atas kritik melalui analogi kehidupan sosial, misal saja lagu: Umar Bakri, si Gali, Ambulan zigzag, Sarjana muda dsb. Lagu lagu jenaka dari Doel sumbang dalam bahasa Indonesia maupun Sunda. Lagu lagu orkes sinten remen. Penampilan teater Gandrik, teater Koma, indonesia kita, hingga ludruk. Jula juli Kartolo juga menunjukkan adanya kritikan yg dg humor. Novel karya Pramudya Anantatoer karya Tetralogi pulau Buru, Nyanyi sunyi seorang bisu, Gadis pantai dsb. Karya Novel Romo Mangun: Romo Rahadi, Burung burung manyar, Lusi Lindri, Genduk Duku, Roro Mendut dsb.













