Dengan seni, budaya dan pariwisata kebuntuan akan komunikasi sosial dan kebuntuan akan pemecahan masalah primordial dapat disalurkan melalui berbagai simbol atau ikon atau tanda. Katarsis kepenuhan kesesakkan jiwapun dappat disalurkan. Seni budaya dan pariwisata ikonnya menjembatani bukan membangun tembok pemisah. Kepentingan atas hidup dan kehidupan.
Dengan ikon atau tanda maka penggunaan tafsir dan imajinasipun akan berkembang. Apa yang dilihat dikatakan dan disampaikan tidak sebatas pada satu sisi namun dapat dengan cara yang holistik atau sistemik. Penjabaran atas seni, budaya dan pariwisata dalam kehidupan ini akan berkembang pada kebudayaan yang menunjukkan karakteristiknya sesuai dengan corak masyarakat yang variatif. Kebhinekaan atau perbedaan menjadi sesuatu yang biasa dan menjadi kekuatan sekaligus kekayaan. Pendekatan atas seni, budaya dan pariwisata sebagai jembatan peradaban dapat di lihat bagaimana sejak jaman renaisance ditunjukkan dari karya leonardo da vinci dalam sketsa orang dengan ekspresi yang berlebihan maupun dalam kajian ilmiahnya. Karya Michelangelo pada last judgement yang menggambarkan tokoh terhormat dalam visual tokoh berdosa berat. Karya Fransisco de Goya dari spanyol yang menggambarkan kritik sosial penembakan Mei, Maya yang telanjang, foto keluarga kerajaan dengan wajah wajah ideot. Karya karya Honore Daumier yang sarat dengan kritik sosial yang karikatural atau sindiran. Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh nampak bagaimana kepala orang bule digambarkan tidak proporsional sedikit lebih besar sedangkan gambar orang orang Jawa atau pengikut Pangeran Diponegoro begitu perfek.













