Garut, BEDAnews
Walau telah sesuai target nasional, namun upaya percepatan penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi baru lahir serta angka kematian anak di Garut, dipandang masih kurang, demikian dikatakan Bupati Garut, Agus Hamdani, saat pencanangan Program Sayang terhadap Ibu dan Anak, Jumat (5/7).
Program sayang terhadap Ibu dan Anak itu merupakan salah satu strategi dan advokasi terhadap lintas sektoral program yang akan ditindaklanjuti dalam kegiatan pembelajaran asuhan bayi baru lahir di rumah bagi lintas sektor dan masyarakat.
Agus menuturkan, masalah kesehatan, khususnya AKI, dan AKB tidak hanya merupakan masalah lokal daerah melainkan sudah menjadi masalah nasional dan global.
Di dunia saat ini, dari 130 juta bayi lahir pada setiap tahunnya, ada 8 juta bayi meninggal sebelum memasuki usia satu tahun. Sebanyak 4 juta di antaranya meninggal pada bulan pertama, dan satu juta pada hari pertama.
Indonesia menduduki peringkat ke-8 di dunia dalam jumlah kematian neonatal. Dalam 6 menit, ada satu bayi lahir meninggal sebelum usia 1 tahun. Dalam satu jam, ada 10 bayi baru lahir meninggal, dan dalam satu hari terdapat 246 bayi meninggal.
Di Kabupaten Garut sendiri, sampai 2012, berdasarkan laporan Puskesmas dan rumah sakit, terdapat sebanyak 298 kasus kematian bayi, dengan penyebab paling tinggi yakni berat badan lahir rendah (BBLR), mencapai sekitar 52%.
Sementara kasus kematian ibu melahirkan mencapai sebanyak 28 kasus, dengan penyebab utama akibat pendarahan sebanyak 10 kasus, hipertensi dalam kehamilan 7 kasus, dan lainnya 9 kasus. Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut pun mencatat jumlah angka kematian bayi di Kabupaten Garut mencapai 50,03/1.000 kelahiran hidup.
Karena kasus kematian ibu dan bayi ini masih tinggi itulah, sehingga perlu dilakukan kampanye program percepatan penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi, tandas Agus.
Banyaknya kasus kematian ibu melahirkan maupun bayi baru lahir di Kabupaten Garut tersebut, jelas Bupati, tak terlepas dari persalinan yang tidak ditolong tenaga kesehatan terlatih. Serta kurangnya pengetahuan, dan perilaku masyarakat yang tidak mengenali tanda bahaya serta terlambat membawa ibu, bayi, dan balita sakit ke fasilitas kesehatan, ujarnya. (Yanti)











