“Indikator-indikator tersebut memberikan gambaran menyeluruh tentang kesehatan ekonomi daerah dan dapat membantu dalam pengambilan keputusan strategis yang lebih baik,” tandasnya.
Inas juga menyoroti bagaimana Kabupaten Belu mengalami penurunan PDRB yang signifikan akibat dampak pandemi Covid-19. Pada tahun 2019, PDRB Belu masih tumbuh sebesar 5,38%, namun anjlok menjadi hanya 0,4% pada tahun 2020.
Meski terjadi pemulihan dengan pertumbuhan PDRB sebesar 1,75% pada tahun 2021, 3,19% pada tahun 2022 dan 3,76% pada tahun 2023, peningkatan tersebut belum cukup memulihkan ekonomi seperti sebelum pandemi.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Belu juga mengalami peningkatan dari Rp 81 miliar pada tahun 2019 menjadi Rp 95 miliar pada 2023.
Namun, kenaikan ini dianggap belum cukup signifikan untuk mendukung Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sehingga PDRB tetap dalam tekanan.












