KAB. BANDUNG || bedanews.com — Ramai menertiban juru parkir (Jukir) liar tak berizin yang katanya untuk kenyamanan masyarakat dan menciptakan suasana kondusif di wilayah, tapi parkir motor liar di atas trotoarĀ sepanjang jalan tepatnya di depan Terminal dan Pasar Soreang tak tersentuh, padahal jelas sangat menganggu.
Seperti dilangsir dari beberapa sumber, bahwa parkir liar di trotoar dan juru parkir (jukir) liar adalah masalah yang sering ditemui di perkotaan, termasuk di Soreang Kabupaten Bandung.
Parkir liar merujuk pada kegiatan parkir kendaraan di tempat yang tidak seharusnya, seperti di trotoar, yang melanggar aturan lalu lintas. Sementara jukir liar adalah orang yang menarik biaya parkir tanpa izin resmi dari pemerintah, seringkali di lokasi yang seharusnya bukan tempat parkir.
Dampak negatif parkir liaar dan jukir liar berupa Gangguan Lalu Lintas, terutama Parkir liar di trotoar menyebabkan penyempitan jalan dan menghambat kelancaran lalu lintas, terutama bagi pengguna jalan lain dan pejalan kaki. Sementara Juru parkir liar tidak menyetorkan retribusi parkir ke kas daerah, sehingga mengurangi pendapatan asli daerah (PAD) sehingga disinyalir merugikan negara.
Semestinya masalah penertiban itu disatu paketkan, kata salah seorang warga Sadu, Imas (45), jangan sampai perbedaan yang bisa menimbulkan persepsi negatif bagi masyarakat dikarenakan ada pemilahan.
Imas mengaku sudah beberapa kali melihat penertiban parkir liar di trotoar yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung, “Tapi itu hanya sekejap mata saja. Beberapa jam setelah pelaksanaan pemertiban, motor-motor bertengger kembali di trotoar tadi,” ujar Imas di Soreang, Kamis 7 Agustus 2025.
Padahal ada regulasi, lanjutnya, yang menyebutkan nasyarakat memiliki peran penting dalam penanganan masalah parkir liar di tempat yang tidak seharusnya. Kalau memang diterapkan dengan baik serta tegas. Pasti masyarakat akan nyaman.
Nara sumber kedua, Iwan (43), warga Cangkuang, menambahkan, selama ini yang nanya penertiban seolah “Nyaris tidak Terdengar” di Soreang. Seperti biasanya ketika akan dilaksanakan pasti terbentur dengan ketersediaan anggaran.
“Lagian keluhan kami itu jarang sekali ditanggapi, lebih menerima saja segala ketidaknyamanan ini,” pungkas Iwan.***













