EMPAT IKHTIAR: DARI NILAI KE BUDAYA PENGABDIAN
A.Rusdiana merumuskan empat ikhtiar utama:
- Nilai Harus Dibuktikan dengan Aksi
Pancasila baru bermakna sosial bukan saat dibacakan, tapi ketika nilai ketuhanan melahirkan akhlak, kemanusiaan melahirkan penghormatan, persatuan mengalahkan ego kelompok, musyawarah menghindarkan kesewenang-wenangan, dan keadilan hadir nyata. Hal ini sejalan dengan firman Allah: “Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu…” (QS. At-Taubah: 105).
- Ilmu Harus Melahirkan Bakti
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Semakin tinggi ilmu, semakin besar tanggung jawab moral. Ilmu harus turun dari ruang kuliah ke ruang kehidupan. Teknologi harus memudahkan hidup, tulisan harus mencerahkan, profesi harus melayani.Bagi mahasiswa, pertanyaannya bukan hanya “berapa nilai yang saya peroleh?” tapi “untuk siapa kompetensi itu digunakan?”. Bagi dosen, bukan “berapa materi tersampaikan?” tapi “berapa banyak peserta didik yang terbantu tumbuh?”.
- Persatuan Harus Dirawat dengan Keadilan
Persatuan tidak cukup diminta, tapi harus dirawat dengan keadilan, dialog, dan penghormatan.“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8).Perbedaan pilihan tidak boleh memutus persaudaraan. Sejarah seharusnya membuat kita hati-hati agar kebencian dan kekerasan tidak diwariskan ke generasi berikutnya.
- Dari Pembiasaan Baik Menuju Budaya Pengabdian
Nilai menjadi karakter lewat pembiasaan. Ilmu menjadi manfaat lewat kesinambungan.“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).Membiasakan jujur, disiplin, membaca, menulis, menolong, mendengar sebelum menghakimi, dan tabayyun sebelum menyebar informasi.













