Uchok Sky Khadafi Aktivis 98, Direktur Eksekutif Center for Budget Analisys (CBA). (Foto Ist).
Oleh: Uchok Sky Khadafi
Aktivis 98, Direktur Eksekutif Center for Budget Analisys (CBA)
JAKARTA || Bedanews.com – Sederet masalah tengah menanti presiden terpilih Prabowo Subianto ketika nanti menjalankan roda pemerintahan. Satu di antaranya yakni soal kehadiran raksasa teknologi digital asal negeri Paman Sam, Starlink.
Harap dicatat bahwa Starlink adalah perusahaan yang lahir dan tumbuh di negeri yang kultur dan paham ideologinya (khususnya konsep ekonomi) sangat berbeda dengan negeri tempat presiden terpilih 2024-2029, Prabowo Subianto lahir dan tumbuh.
Starlink lahir di tempat yang mengelu-elukan konsep pasar bebas (laissez faire) dalam memaknai bisnis (peran negara bila perlu ditaruh dipojok arena) sedangkan Prabowo Subianto lahir di tempat di mana konsep ekonomi harus berbasis kepentingan rakyat (Pancasila, Pasal 33 UUD 45-negara harus hadir di tengah rakyatnya). Jelas sudah bertolakbelakang.













