Sinyal di mana Starlink ogah ikuti rule of the game ekonomi suatu negara dalam konteks ini Indonesia riak-riaknya di awal sudah nampak jelas. Pertama, Starlink hadir tanpa mengindahkan aturan-aturan bisnis atau investasi yang ada.
Misal, Starlink tak sedikitpun punya keinginan untuk membantu menyerap tenaga kerja (fakta menunjukkan Starlink hanya punya tiga karyawan). Bagi mereka sikap demikian adalah hal yang lumrah karena prinsip bisnis harus untung sebesar mungkin dan resiko seminim mungkin (spirit liberalisme ekonomi pada dasarnya seperti itu). Tapi bagi kita, spirit model begitu tak lebih sebagai tantangan terbuka terhadap nilai-nilai yang dianut bangsa dan negara ini (investasi harus mendatangkan manfaat kemakmuran bagi rakyat).
Kedua, Starlink secara terang-terangan menginginkan akses pasar yang seluas-luasnya (direct to cell salah satunya). Keinginan ini, mengindikasikan bahwa Starlink tak mengindahkan resiko yang bakal diterima suatu negara dalam hal ini Indonesia yang akan terdampak karena segmentasi itu bisa membuldozer tenaga kerja (dampak PHK terbuka lebar jika pemerintah memberikan lampu hijau kepada Starlink untuk direct to cell).













