“Kebanyakan rusaknya saat banjir beberapa bulan lalu, ada yang jebol. Kita sudah melakukan penanganan darurat seperti pasang brongjong, tapi itu sifatnya sementara. Nah rusak berat ini yang gak bisa mengairi sama sekali,” ungkap dia.
Dia mengaku pihaknya tidak mempunya anggaran untuk merevitalisasi irigasi-irigasi yang rusak berat. Pihaknya, hanya bisa mengoptimalkan alokasi anggaran operasional dan pemeliharaan untuk mengatasi kerusakan ringan.
“Memang untuk revitalisasi kita tahun ini belum ada anggaran, kita anggarkan di tahun depan secara bertahap. Intinya kita ada yang diprioritaskan, sementara pakai anggaran pemeliharaan dulu,” ucap dia.
Ia mengatakan kekeringan sawah-sawah juga kerap terjadi karena petani yang kurang patuh kalender tanam. Seharusnya saat musim kemarau, pola tanam dilakukan secara bergantian tidak bersamaan.













