Dalam sejarah Barat merebut kuasa global dari Islam, tidak ditemukan konsep yang tangguh, teguh, dan teduh secara menyeluruh untuk menjawab kebutuhan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
Mereka memang mengakui adanya kekuatan Yang Maha Kuasa, tetapi menolak adanya benchmark objektif. Padahal, contoh teladan ada pada Islam, sebagaimana dipraktekkan Nabi Muhammad SAW.
Di Indonesia, banyak yang bersemangat mengikuti pola ekonomi Islam atau ekonomi syariah. Namun pada kenyataannya, pola dasar materialisme dan tata ruang materialistik tetap diberlakukan dan bercampur aduk tak keruan. Fantasi dan fatamorgana materialisme memang luar biasa, tetapi rapuh dalam pembuktiannya.
Ironisnya, di Barat kini justru muncul wacana post-neoliberalism, post-korporatisme, dan post-finansialisasi. Sementara di Indonesia, semua itu bukan hanya dipertahankan, tetapi bahkan berusaha diperkokoh.













