Kajian tentang hubungan manusia dengan lingkungan kemudian mendasari kenyataan bahwasannya telah disediakan segala sumber kebutuhan di alam untuk manusia bertahan hidup. Seperti yang diungkapkan oleh Sumaatmadja (2012) bahwa:
Pertama: manusia dilahirkan sekitar satu atau dua juta tahun yang lampau setelah segala sumber daya tersedia. Hal tersebut memberikan asumsi bahwa manusia bergantung pada alam untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya dengan memanfaatkan potensi (akal) manusia dan potensi alam. Manusia sebagai makhluk berakal hidup dengan memanfaatkan potensi di lingkungan tempat tinggalnya.
Kedua: Keberadaan manusia sebagai makhluk hidup yang berakal menjadikannya makhluk pemikir tentang keeksistensiannya di Bumi. Hal ini bertolak dari filsafat eksistensialisme yang beranggapan bahwa segala benda hidup atau mati yang terlepas dari diri manusia tidak memiliki makna bahkan nilai apapun tanpa peran manusia sebagai makhluk yang berakal (Sadulloh,2014;Tatang dan Kurniasih,2014).
Pemaknaan negatif tentang eksistensialisme ini akan berujung pada dampak buruk terhadap hubungan manusia dengan benda lainnya baik hidup ataupun mati. Pandangan eksistensialisme yang dimaknai negatif inilah yang kemudian menjadi cikal bakal sikap egoisme manusia mengeksploitasi alam secara berlebihan untuk keberadaannya di Bumi.












