Jelasnya, Lailatul Qadar itu laksana tamu agung yang mendatangi suatu tempat, orang-orang ramai menyambut kehadirannya dengan sukaria. Setiap orang berharap akan disapa atau ditemui oleh tamu agung itu sehingga berupaya untuk mencari tempat sedekat mungkin.
Persoalanya, apakah ia akan menemui semua orang yang menyambut atau melewatinya, lalu pergi menuju sebuah rumah yang penghuninya sedang tidur? Sejatinya, tamu agung itu tidak tidak akan menemui setiap orang yang berada di lokasi tersebut walaupun mereka sangat mendambakannya. Seperti seorang yang sangat rindu akan kedatangan kekasih, tapi ternyata ia tidak sudi mampir menemuinya. Lailatul Qadar hanya menemui orang-orang yang telah mempersiapkan dan menyucikan jiwanya. Laksana air dan minyak, tidak akan bertemu dan menyatu walaupun dalam wadah yang sama (dalam Membumikan Al-Quran, hlm 514).













