Dalam catatan sejarahnya, Ia mulai mencurahkan pikirannya pada pendidikan pasca diasingkan ke Negeri Belanda karena kritiknya yang berjudul Als Ik een Nederlander was (seandainya aku orang Belanda). Kala membangung sekolah taman siswa Ki Hajar Dewantara memakai semboyan ”ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” (Di depan seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik). Hingga saat ini semboyan milik Ki Hajar Dewantara selalu dikenal dalam dunia pendidikan Indonesia dan masyarakat.
Tidak hanya itu, ada salah satu ajaran Ki Hadjar Dewantara yang sering dilupakan disebut dengan ajaran ”Neng Ning Nung Nang” hal itu, tidaklah bisa dilepaskan dari sejarah yang melatar-belakangi lahirnya ajaran tersebut. Ketika Ki Hadjar pulang dari masa pembuangan sebagai tahanan politik di Negeri Belanda, waktu itu masih bernama RM Suwardi Suryaningrat, merupakan titik balik strategi perjuangannya sebagai patriot bangsa yang semula bergerak di bidang politik beralih ke bidang pendidikan dan kebudayaan. Ki Hadjar mendapatkan pencerahan selama masa pembuangan bahwa untuk meraih kemerdekaan dari penjajahan kolonial Belanda tidaklah cukup hanya melalui jalur politik, maka perlu difikirkan dan diperjuangkan lewat jalur pendidikan dan kebudayaan.











