“Kritik yang muncul dari masyarakat bukan didasari oleh rasa iri atas harga pakaian tersebut, melainkan tuntutan atas empati dan konsistensi. Publik ingin menguji apakah pejabat yang sehari-hari menggaungkan disiplin dan pelayanan masih memiliki sensitivitas terhadap realitas ekonomi masyarakat luas,” imbuhnya.
Menurutnya, Penegak hukum yang mempertontonkan gaya hidup di luar kelayakan publik dinilai hanya akan mengundang tanda tanya besar mengenai integritas institusi.
“Dengan demikian, polemik kemeja mahal ini telah bergeser dari sekadar urusan selera fesyen pribadi menjadi sebuah ujian mendasar terhadap moralitas, komitmen, dan keteladanan kepemimpinan di tubuh Polri,” pungkasnya. (Red).













