Oleh : A.Rusdiana
Hari ini berada pada Jumat, 27 Rajab 1447 Hijriah, bertepatan dengan peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad ﷺ, sebuah peristiwa agung yang bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan ruhani yang membawa mandat terpenting dalam Islam: perintah shalat lima waktu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami.”(QS. Al-Isra: 1).
Isra Mi’raj terjadi di tengah fase terberat dakwah Rasulullah ﷺ: setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, saat tekanan psikologis, sosial, dan fisik begitu berat. Namun justru dalam kondisi itulah Allah menghadiahkan shalat, sebagai penopang jiwa, penjaga iman, dan penjernih hati.
Tema kita hari ini adalah Merawat Cahaya Isra Miraj. Cahaya Isra Miraj bukan hanya dikenang, tetapi dirawat, agar tidak padam oleh kelalaian, rutinitas, dan kecenderungan duniawi. Berikut tiga pembelajaran dari Merawat Cahaya Isra Miraj:
Pertama: Merawat Cahaya Isra Miraj dengan Menjaga Shalat; Pesan yang sangat bermakna. Merawat “cahaya” Isra Miraj memang paling utama dilakukan melalui salat lima waktu, karena ibadah inilah “oleh-oleh” langsung yang dibawa Nabi Muhammad SAW dari Sidratul Muntaha untuk umatnya.
Dalam konteks spiritual, menjaga salat berarti menjaga koneksi langsung dengan Sang Pencipta. Berikut adalah beberapa langkah praktis untuk merawat cahaya tersebut: 1) Memperbaiki Kualitas (Khusyuk): Tidak sekadar menggugurkan kewajiban, tapi menghadirkan hati di setiap bacaan; 2) Tepat Waktu: Menunjukkan prioritas kita bahwa pencipta cahaya tersebut adalah yang utama dalam keseharian; dan 3) Berjamaah: Memperluas pancaran cahaya tersebut ke lingkungan sekitar dan mempererat silaturahmi.
Isra Miraj mengajarkan bahwa shalat adalah hubungan langsung hamba dengan Allah, tanpa perantara. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shalat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama; dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama. (HR. Baihaqi).
Menjaga shalat bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi menghadirkan khusyuk, disiplin waktu, dan kesadaran ruhani. Shalat yang terjaga akan menjaga akhlak, pikiran, dan arah hidup seorang mukmin. Allah Taala berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Kedua: Merawat Cahaya Isra Mi’raj dengan Menjernihkan Hati; Hal ini melanjutkan pesan mengenai Merawat Cahaya Isra Miraj, langkah utama untuk menjaga “cahaya” tersebut tetap bersinar dalam diri adalah dengan menjernihkan hati (tashfiyatul qalb). Sama halnya dengan Rasulullah SAW yang hatinya disucikan dengan air zam-zam sebelum melakukan perjalanan agung, kita pun perlu melakukan “pembersihan” spiritual untuk meraih keberkahan Isra Miraj di tahun 2026 ini. Berikut adalah tiga cara praktisnya: 1) Konsistensi Shalat sebagai Miraj Mukmin: Menjadikan shalat bukan sekadar kewajiban, tapi sarana berkomunikasi langsung dengan Allah untuk menggugurkan kotoran hati; 2) Melepaskan Penyakit Hati: Membersihkan diri dari rasa iri, dengki, dan sombong yang seringkali menghalangi masuknya hidayah dan kedamaian; dan Memperbanyak Zikir dan Tafakur: Mengingat kebesaran Allah melalui zikir harian untuk menjaga hati tetap tenang di tengah kesibukan duniawi.
Isra Miraj adalah perjalanan ruhani. Maka, peringatan ini mengajak kita membersihkan hati dari dengki, riya, kesombongan, dan kelalaian. Bulan Rajab dikenal sebagai bulan istighfar, bulan menyiapkan hati menuju Ramadhan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Istighfar, dzikir, dan doa adalah sarana membersihkan hati agar cahaya Isra Miraj tetap hidup dalam diri kita. Di antaranya dengan memperbanyak istighfar:
Ketiga: Merawat Cahaya Isra Mi’raj dengan Ketaatan Berkelanjutan; Menjaga cahaya Isra Mi’raj dalam diri berarti memastikan bahwa pengalaman spiritual tersebut tidak berhenti sebagai peringatan tahunan saja, melainkan menjadi bahan bakar untuk ketaatan yang konsisten di tahun 2026 ini. Berikut adalah tiga langkah praktis untuk merawat cahaya tersebut: (1) Menjaga Kualitas Shalat Lima Waktu: Sebagaimana shalat adalah “oleh-oleh” utama dari peristiwa ini, memperbaikinya adalah cara terbaik merawat cahayanya. Cobalah untuk mulai membiasakan Shalat di Awal Waktu dan memperdalam maknanya agar shalat benar-benar menjadi Mi’raj (sarana naik) bagi mukmin menuju Tuhannya. (2) Istiqomah dalam Kebaikan Kecil: Cahaya ketaatan akan tetap terang jika dipupuk dengan amalan yang kontinu (dawam), meskipun sedikit. Anda bisa memulai dengan rutin membaca Al-Qur’an setiap habis Subuh atau menjaga wudhu sepanjang hari, dan (3) Refleksi Diri (Muhasabah): Jadikan peristiwa Isra Mi’raj sebagai pengingat bahwa perjalanan menuju Allah membutuhkan kesucian hati. Teruslah membersihkan diri dari penyakit hati agar cahaya hidayah tetap bersemayam.
Isra Mi’raj bukan peristiwa sesaat, melainkan fondasi ketaatan jangka panjang. Rasulullah ﷺ tidak hanya menerima perintah shalat, tetapi menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah harus diperjuangkan secara konsisten.
Doa yang sering kita panjatkan di bulan Rajab adalah:
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.”
Artinya, cahaya Isra Mi’raj harus mengantar kita pada kesiapan ruhani, bukan sekadar seremoni tahunan.(Wallahu alam bishowab)












