Kedua: Menghormati Guru adalah Bagian dari Akhlak dan Keimanan;
Islam mengajarkan adab sebelum ilmu. Murid yang berhasil bukan hanya yang cerdas secara intelektual, tetapi juga yang menghormati gurunya. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata:
“Allah tidak membukakan ilmu kepadaku kecuali karena tawadhu kepada guru.”
Menghormati guru bukan sekadar tradisi budaya, tetapi bagian dari pembentukan akhlak mulia. Ketika penghormatan kepada guru mulai hilang, maka keberkahan ilmu juga akan memudar. Rasulullah SAW bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak ulama.” (HR. Ahmad).
Hadis ini menegaskan pentingnya memuliakan orang-orang berilmu dan para pendidik. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menekankan bahwa seorang murid hendaknya bersikap tawadhu di hadapan guru, mendengarkan dengan penuh hormat, serta tidak menyombongkan diri atas ilmu yang dimiliki. Menurut beliau, adab kepada guru adalah pintu masuk keberkahan ilmu. Ilmu yang dipelajari tanpa adab akan kehilangan cahaya dan manfaatnya. Demikian pula Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menjelaskan bahwa di antara bentuk penghormatan kepada guru adalah tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, tidak memotong pembicaraannya, serta senantiasa menjaga keridhaannya. Sebab ridha guru merupakan salah satu jalan datangnya keberkahan ilmu dan kemuliaan hidup.











