Sementara itu Ketua Umum PBMA, KH Embay Mulya Syarief mengemukakan, Mathla’ul Anwar merupakan milik umat, bukan milik pribadi dan selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin berjuang bersama.
Semangat keterbukaan ini juga ditegaskan oleh Ketua Majelis Amanah PBMA KH Sadeli Karim, yang mengingatkan bahwa sejak awal pendiriannya pada 10 Juli 1916, Mathla’ul Anwar dibangun untuk kepentingan umat.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Majelis Amanah PBMA, Prof. Saiful Mujani menambahkan bahwa terdapat banyak titik kesamaan antara nilai-nilai yang dibawa Menteri Iftitah dengan visi Mathla’ul Anwar.
Menurut Prof. Saiful, kepedulian Menteri Transmigrasi terhadap Mathla’ul Anwar adalah bentuk nyata pengakuan bahwa Ormas Islam tersebut tetap menjadi wadah inklusif untuk pendidikan, dakwah dan pengabdian sosial.













