Lantas, mengapa lembaga publik kita seolah impoten membenahi dirinya sendiri? Sebab, pengawasan intern kini hanya menjadi panggung teater. Laporan akuntabilitas ditumpuk rapi untuk mengejar predikat opini keuangan tanpa cela, sementara di balik meja, obral pengaruh terus berlangsung. Kita sedang menyaksikan tirani prosedur yang mengorbankan substansi keadilan.
Membedah korupsi terstruktur membutuhkan lebih dari sekadar aksi tangkap tangan yang heboh di layar televisi. Ia menuntut pembongkaran arsitektur kekuasaan yang memproduksi insentif untuk berbuat curang. Tanpa pembenahan mendasar pada desain birokrasi dan keberanian memotong rantai feodal, kita hanya sedang menunggu giliran: mengantre di loket, menyerahkan amplop, dan perlahan menyerahkan masa depan negeri ini kepada pemenang lelang tertinggi.***













